Jika pada postingan blog saya tahun 2015 lalu saya pernah sedikit membahas tentang pengalaman saya mengunjungi perpustakaan nasional, kali ini saya akan (kembali) ingin membagikan pengalaman saya mengunjungi perpustakaan nasional tentu dengan nuansa yang berbeda dan baru itu karena perpustakaan nasional sudah memiliki gedung baru yang jauh lebih representatif dibandingkan gedung lama. Sedikit mengulas, pada tahun 2015 lalu saya sempat mengunjungi perpustakaan nasional yang bertempat di jl. Salemba (gedung lama) itu merupakan kunjungan pertama kalinya bagi saya ke perpustakaan nasional.

Foto: dokumen pribadi
Setelah 4 tahun lamanya sejak kunjungan pertama saya ke perpustakaan nasional, pada 2019 ini saya kembali menyempatkan diri untuk mengunjungi perpustakaan nasional yang bertempat di jl. Merdeka Selatan (gedung baru). Hingga sampai blog ini saya tulis kedua gedung perpustakaan tersebut masing buka tentu dengan fungsi & tugas yang tidak sama lagi. Untuk sekarang segala kegiatan kepustakawanan (membaca & meminjam buku) lebih cenderung berpusat di gedung barunya.

Foto: dokumen pribadi
Karena saya pernah mengunjungi kedua gedung ini, maka saya dapat membandingkan antara keduanya, yang paling saya kagum dari gedung baru perpustakaan nasional ini adalah desain eksterior dan interior dari gedung ini, bagaimana tidak jika dibandingkan dengan gedung lamanya yang bertempat di jl. Salemba, gedung baru ini lebih estetik dan enak dipandang oleh mata. Ini bisa kamu rasakan dari pertama kali menginjakkan kaki di depan pintu gerbang perpustakaan nasional yang jaraknya tidak jauh dari monumen nasional (Monas).

Lantai 21 - 22
Foto: dokumen pribadi
Pada pintu masuk kamu disambut oleh petugas keamanan yang memegang metal detektor untuk memeriksa barang yang kita bawa, untuk memastikan bahwa barang yang dibawa oleh pengunjung bukan barang berbahaya dan dilarang. Setelah melewati pintu masuk kamu akan langsung disuguhkan oleh pemandangan lukisan - lukisan serta barang yang kaya akan nilai seni yang dipajang di dinding - dinding. Sebagai bentuk ucapan selamat datang bagi para pengunjung.

BACA JUGA: kemeriahan hari konsumen nasional (HAKORNAS)

Jika kamu terus berjalan lurus, kamu akan langsung bisa masuk ke gedung utama perpustakaan nasional yang saat ini sudah berjumlah 24 lantai. Jauh lebih megang dan estetik dibandingkan dengan gedung lamanya, dilihat dari lokasi pun gedung baru lebih strategis di banding dengan lokasi gedung yang lama. Karena sangat berdekatan dengan monumen nasional yang notabene adalah tempat wisata, jadi jika kalian sudah lelah jalan - jalan di Monas kamu bisa beristirahat sambil membaca buku di gedung perpustakaan nasional ini loh.

Foto: dokumen pribadi

Jangan lupa jika ke perpustakaan nasional untuk membuat kartu member (keanggotaan) bagi kamu yang belum memilikinya, karena banyak keuntungan yang akan kamu dapatkan jika kamu memiliki kartu member perpustakaan tersebut. Selain bisa meminjam buku dengan kartu member, kamu juga bisa mengakses berbagai ebook, jurnal online nasional menggunakan nomor member kartu perpustakaan tersebut.

Ayoo,, perbanyak membaca buku karena buku merupakan jendela dunia dan juga gerbang menuju kesuksesan. Tidak ada orang yang cerdas tanpa membaca buku, jadikan membaca buku sebagai kebutuhan primer kamu selayaknya kamu membutuhkan makan makanan di setiap harinya.
Read More
Pada hari Sabtu, 04 Mei 2019 saya berkesempatan untuk mewakili UKM yang saya pimpin menghadiri salah satu acara besar UKM lain di fakultas sebagai peringatan dari lahirnya hari konsumen nasional. Acara yang berlangsung di area foodnow festive walk Karawang ini berlangsung meriah dan ramai dihadiri oleh para audience dari berbagai universitas seperti dari akademi perikanan, UBP Karawang, dan tentunya dari UNSIKA Karawang itu sendiri.

Sesi foto bersama Dr. Ir Arief Safari, MBA foto: dokumen pribadi
acara untuk memperingati hari konsumen cerdas kali ini mengambil tema "sinergi antara konsumen dengan pelaku usaha dalam menjalankan amanat UU perlindungan konsumen"  yang menghadirkan perwakilan dari Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) bapak Dr. Ir. Arief Safari, MBA serta dosen fakultas hukum Unsika bapak Imam Budi Santoso SH., MH. Pada kesempatan kali ini juga menghadirkan wakil ketua bupati kab. Karawang bapak H. Ahmad Zamakhsyari S. Ag sebagai pemberi sambutan dan membuka acara.

Foto: dokumen pribadi
Acara ini dimeriahkan dengan sesi talkshow, Bazaar, dan penampilan akustik. Pada sesi talkshow sendiri merupakan sesi yang paling meriah karena membahas tentang hak-hak konsumen yang sering diabaikan oleh para pelaku usaha ini memancing banyak pertanyaan dari para mahasiswa alhasil untuk sesi pemaparan materi sendiri dipangkas waktunya dan lebih banyak waktunya dialihkan ke sesi tanya jawab.

BACA JUGA: Pengertian konstitusi di mata para sang ahli

Membeludaknya pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan mahasiswa membuat bapak Dr. Ir. Arief Safari, MBA sedikit kesulitan menjawab pertanyaannya. Melihat begitu antusiasnya para mahasiswa untuk bertanya akhirnya bapak Dr. Ir Arief Safari, MBA memberi sedikit reward bagi yang bertanya yaitu sebuah chocmaltin.

Foto: dokumen pribadi
Tidak hanya itu, selain membagikan chocmaltin bagi yang bertanya, bapak Dr. Ir Arief Safari, MBA juga memberikan sebuah goodie bag bagi yang sudah follow akun resmi Instagram BPKN, tak ayal banyak mahasiswa yang langsung memfollow nya dan berebut goodie bag yang dibagikan tersebut secara gratis.

Pada akhirnya acara pun selesai dan ditutup oleh penampilan akustik dari mahasiswa fakultas hukum. Sangat menyenangkan mengikuti acara ini selain mendapatkan ilmu yang bermanfaat tentang hukum perlindungan konsumen saya juga mendapatkan chocmaltin dan goodie bag juga hehe
Read More
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah Subhanahu Wa Ta’ala Yang Maha Pemurah dan Lagi Maha Penyayang, puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang telah melimpahkan Hidayah, Inayah dan Rahmat-Nya sehingga kami mampu menyelesaikan penyusunan makalah dengan judul hukum ketenagakerjaan.

Penyusunan makalah  sudah kami lakukan semaksimal mungkin dengan dukungan dari banyak pihak, sehingga bisa memudahkan dalam penyusunannya. Untuk itu kami pun tidak lupa mengucapkan terima kasih dari berbagai pihak yang sudah membantu kami dalam rangka menyelesaikan makalah ini.

Tetap tidak lepas dari semua itu, kami sadar sepenuhnya bahwa dalam makalah ini masih terdapat banyak kekurangan baik dari segi penyusunan bahasa serta aspek-aspek lainnya. Maka dari itu, dengan lapangdada kami membuka seluas-luasnya pintu bagi para pembaca yang ingin memberikan kritik ataupun sarannya demi penyempurnaan makalah ini.

Karawang 27 desember  2017
 Putra Septiana  


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB 1 PENDAHULUAN                                                                                              
Latar belakang masalah
Rumusan masalah
Tujuan penulisan
Pembatasan masalah
BAB 2 PEMBAHASAN
Istilah penting dalam ketenagakerjaan
Sumber hukum ketenagakerjaan
Praktek outsourching
Pelaksanaan perlindungan kerja
PHK sesuai undang-undang yang berlaku
Jaminan social sesuai undang-undang yang berlaku
BAB 3 PENUTUP
Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang Masalah
Permasalahan tenaga kerja dari tahun ke tahun menarik perhatian banyak pihak. Permasalahan tenaga kerja yang menimbulkan konflik-konflik pada buruh, seperti kasus konflik perburuhan, kekerasan, penipuan, pemecatan yang semena-mena, upah yang tidak sesuai standar, semakin hari semakin kompleks. Kasus tersebut penting mendapatkan perspektif perlindungan hak-hak asasi tenaga kerja dalam Undang-Undang yang tegas memberikan perlindungan bagi hak-hak tenaga kerja
Timbulnya perbedaan pendapat atau pandangan maupun pengertian antar pihak pekerja dan pengusaha terhadap hubungan kerja, syarat-syarat kerja dan kondisi kerja, akan menimbulkan Perselisihan Hubungan Industrial, bahkan sampai akhirnya terjadi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Bahwa masalah ketenagakerjaan tidak semata-mata bersifat perdata, tetapi juga mempunyai sifat pidana, bahkan ada segi politik praktisnya.

Hal ini dapat kita lihat dari peraturan-peraturan ketenagakerjaan, dimana dibuat ancaman hukuman bagi yang melanggar peraturan tersebut, dimana masalah ketenagakerjaan sangat sensitif baik nasional bahkan internasional. Terjadinya perselisihan diantara manusia merupakan masalah yang lumrah karena telah menjadi kodrat manusia itu sendiri. Oleh karena itu, yang penting dilakukan adalah cara mencegah atau memperkecil perselisihan tersebut atau mendamaikan kembali mereka yang berselisih. Perselisihan perburuhan juga terjadi sebagai akibat wanprestasi yang dilakukan pihak buruh atau oleh pihak pengusaha. Keinginan dari salah satu pihak (umumnya pekerja) tidak selalu dapat dipenuhi oleh pihak lainnya (pengusaha), demikian pula keinginan pengusaha selalu dilanggar atau tidak selalu dipenuhi oleh pihak buruh atau pekerja.

Perselisihan Hubungan Industrial menurut Undang-Undang Tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial No 2 Tahun 2004 Pasal 1 angka 1 yaitu: “Perbedaan pendapat yang mengakibatkan pertentangan antara pengusaha atau gabungan pengusaha dengan pekerja/buruh atau Serikat Pekerja/serikat buruh karena adanya perselisihan pemutusan hubungan kerja dan perselisihan antar Serikat Pekerja/serikat buruh dalam satu perusahaan”.
Perselisihan kepentingan atau disebut pula belangen geschil, menurut Iman Soepomo terjadi karena ketidaksesuaian paham dalam perubahan syarat-syarat kerja dan atau keadaan perburuhan. Terdapat perbedaan antara perselisihan hak dengan perselisihan kepentingan, yakni tentang perselisihan
hak, objek sengketanya adalah tidak dipenuhinya hak yang telah ditetapkan karena adanya perbedaan dalam implementasi atau penafsiran ketentuan peraturan perundang-undangan, perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau perjanjian kerja bersama yang melandasi hak yang disengketakan.

Sedangkan dalam perselisihan kepentingan, objek sengketanya karena tidak adanya kesesuaian paham atau pendapat mengenai pembuatan, dan atau perubahan syarat-syarat kerja yang ditetapkan dalam perjanjian kerja, atau peraturan perusahaan, atau perjanjian kerja bersama. Dengan kata lain, dalam perselisihan hak yang dilanggar adalah hukumnya, baik yang ada dalam peraturan perundang-undangan, dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau perjanjian kerja bersama. Sedangkan dalam perselisihan kepentingan menyangkut pembuatan hukum dan atau perubahan terhadap subtansi hukum yang sudah ada.
  1. B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan secara umum dapat dirumuskan masalah sebaagai berikut :
  1. macam istilah dalam ketenagakerjaan?
  2. macam sumber hukum ketenagakerjaan?
  3. Bagaimanakah implementasi Pasal 65 dan Pasal 66 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan dalam praktik outsourcing
  4. Bagaimanakah pelaksanaan perlindungan kerja dan syarat-syarat kerja bagi Pekerja/Buruh outsourcing?
  5. bagaimana pemutusan hubungan kerja?
  6. bagaimana jaminan social tenaga kerja?

  1. Tujuan penulisan
  2. mengetahui istilah dalam ketenagakerjaan.
            2          menguraikan sumber hukum ketenagakerjaan.
  1. menjelaskan implementasi Pasal 65 dan Pasal 66 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan dalam praktik outsourcing
  2. menjelaskan pelaksanaan perlindungan kerja dan syarat-syarat kerja bagi Pekerja/Buruh outsourcing
  3. menjabarkan pemutusan hubungan kerja sesuai undang-undang yang berlaku.
  4. menjabarkan jaminan social tenaga kerja sesuai undang-undang yang berlaku.

  1. Pembatasan masalah.
            Kami membatasi perumusan masalah ini sampai dengan hukum ketenagakerjaan yang berlaku di Indonesia pada saat ini.


BAB II PEMBAHASAN

  1. Istilah penting dalam ketenagakerjaan
Menurut UU NO. 13 TAHUN 2003 tentang ketenagakerjaan, ada beberapa istilah penting yang berkaitan dengan ketenagakerjaan.
  1. Ketenagakerjaan adalah segala hal yang berhubungan dengan tenaga kerja pada waktu sebelum, selama, dan sesudah masa kerja.
  2. Tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan/atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat.
  3. Pekerja/buruh adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain.
  4. Pemberi kerja adalah orang perseorangan, pengusaha, badan hukum, atau badan-badan lainnya yang mempekerjakan tenaga kerja dengan membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain.
  5. Pengusaha adalah :
    1. orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang menjalankan suatu perusahaan milik sendiri;
    2. orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang secara berdiri sendiri menjalankan perusahaan bukan miliknya;
    3. orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang berada di Indonesia mewakili perusahaan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan b yang berkedudukan di luar wilayah Indonesia.
  6. Perusahaan adalah :
    1. setiap bentuk usaha yang berbadan hukum atau tidak, milik orang perseorangan, milik persekutuan, atau milik badan hukum, baik milik swasta maupun milik negara yang mempekerjakan pekerja/buruh dengan membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain;
    2. usaha-usaha sosial dan usaha-usaha lain yang mempunyai pengurus dan mempekerjakan orang lain dengan membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain.
  7. Perencanaan tenaga kerja adalah proses penyusunan rencana ketenagakerjaan secara sistematis yang dijadikan dasar dan acuan dalam penyusunan kebijakan, strategi, dan pelaksanaan program pembangunan ketenagakerjaan yang berkesinambungan.
  8. Informasi ketenagakerjaan adalah gabungan, rangkaian, dan analisis data yang berbentuk angka yang telah diolah, naskah dan dokumen yang mempunyai arti, nilai dan makna tertentu mengenai ketenagakerjaan.

  1. sumber hukum ketenagakerjaaan
  2. PERATURAN PER-UU-AN
UU No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan
UU No. 2 tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial
UU No. 3 tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja, yg dirubah dgn UU No. 25 thn 1997 & dijelaskan lebih terperinci dalam PP No. 14 tahun 1993 tentang Penyelenggaran Jamsostek dan PP No. 28 thn 2002 tentang Perubahan Pasal 21 PP No. 3 thn 1992;
Dll.

  1. Perjanjian
Perj Kerja Bersama / Perj Perburuhan / Kesepakatan Kerja Bersama;
Perjanjian Kerja;
Peraturan Perusahaan.

  1. keputusan
Penetapan yang dibuat Panitia Penyelesaian Perselisihan Perburuhan baik tingkat Pusat atau Daerah (P4D atau P4P menurut UU No. 22 tahun 1957) yang kemudian diganti dengan istilah PPHI menurut UU No 2 tahun 2004. Oleh UU telah dinyatakan bahwa penetapan PPHI merupakan compulsory arbitration (arbitrase wajib) sebelum perselisihan pada akhirnya diselesaikan oleh badan peradilan

  1. traktat
Kesepakatan internasional baik bilateral maupun multilateral telah banyak melahirkan kaedah-kaedah hukum ketenagakerjaan yang relatif baru atau pun penegasan terhadap praktik ketenagakerjaan yang sudah ada sebelumnya.
Contoh:
Konvensi  ILO  No.  100  tentang  pengupahan  yang  sama  antara  pekerja  pria  dan pekerja  wanita,  yang  telah  diratifikasi  oleh  Pemerintah RI melalui UU No. 80 tahun   1957;
Konvensi  ILO  No.  120  tentang  hygiene  dalam  perniagaan  dan perkantoran, yang   kemudian   diraifikasi   oleh   Pemerintah   RI   melalui   UU   No.   3   tahun   1969;
Konvensi ILO No. 155 tahun 1981 tentang kewajiban penyelenggaraan program K3

  1. kebiasan
Terkesan (seringkali) dianggap wajib untuk dilakukan sehingga dengan tidak dilakukannya kebiasaan tersebut dianggap sebagai sebuah pelanggaran;
Berulang-ulang dilakukan

  1. praktek outsourching
 (kasus di PT. PERTAMINA UP-VI Balongan oleh PT. INKANINDO di Indramayu)’. Tetapi penelitian ini memiliki relevansi dengan penelitian-penelitian yang telah dilakukan antara lain oleh:

  1. Evi Rosmanasari (2008), dengan judul “Perlindungan Hukum Bagi Tenaga Kerja Outsourcing”, menemukan bahwa dalam menjalankan usaha outsourcing penyedia tenaga kerja pemeriksaan rutin NDT peralatan kilang PT. PERTAMINA (Persero) UP-VI Balongan, PT.INKANINDO belum seluruhnya sesuai dengan ketentuan ketenagakerjaan yang berlaku. Ada beberapa hal yang telah terpenuhi namun ada pula yang belum terpenuhi, yaitu:

  1. Beberapa hal yang telah mematuhi ketentuan, antara lain:
    • Penyerahan pekerjaan penyedia tenaga kerja pemeriksaan rutin NDT peralatan kilang PT. PERTAMINA (Persero) UP-VI Balongan dilakukan dengan perjanjian kerja sama secara tertulis, sehingga memenuhi ketentuan Pasal 64 dan Pasal 65 ayat (1).
    • Dalam perlindungan kerja yang telah terpenuhi baru ketentuan pekerja anak, karena memang tenaga kerja pemeriksaan rutin NDT seluruhnya pekerja wanita dewasa dan laki-laki dewasa dengan usia minimum 19 (Sembilan belas) tahun, sehingga memenuhi ketentuan
Pasal 68 sampai dengan 75 tentang pekerja anak, Pasal 76 tentang jam kerja malam bagi pekerja wanita, Pasal 81-83 tentang hak-hak khusus pekerja wanita. Selain itu waktu istirahat yang diberikan kepada tenaga kerja dan ketentuan kelebihan jam kerja belum memenuhi ketentuan Pasal 78 ayat (1) ayat (2).

  • Hubungan kerja yang terjadi antara PT.INKANINDO sebagai penyedia jasa tenaga kerja outsourcing dan PT. PERTAMINA (PERSERO) UP-VI Balongan sebagai pengguna tenaga kerja outsourcing serta hubungan dengan tenaga kerja pemeriksaan rutin NDT telah memenuhi ketentuan Pasal 59 tentang Perjanjian Kerja Waktu Tertentu dan Pasal 65 ayat (6) dan ayat (7).

  1. Berdasarkan pelanggaran yang dilakukan, antara lain:
  • Jam kerja yang diberlakukan bila dijumlah dalam 1 (satu) minggu jumlahnya adalah 45 (empat puluh lima) jam padahal dalam Pasal 77 ayat (2) maksimal jam kerja perminggu adalah 40 (empat puluh) jam.
  • Uang makan lembur tidak diberikan karena kurang dari 4 jam nyata pada hari-hari kerja. Hal ini melanggar Pasal 77 ayat (2) yang telah mengatur bahwa total jam kerja nyata dalam seminggunya tidak boleh lebih dari 40 (empat puluh) jam. Dan ketentuan Waktu Kerja Lembur dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan Pasal 78 ayat (1) huruf b yaitu hanya dapat dilakukan paling banyak 3 (tiga) jam dalam 1 (satu) hari dan 14 (empat belas) jam dalam 1 (satu) minggu.
  • Begitu juga dengan Ketentuan yang menyebutkan bahwa Khusus untuk tenaga shift tidak mendapat uang makan lembur dan uang transport lembur apabila bekerja pada hari-hari libur resmi, tidak sesuai dengan Ketentuan Waktu Kerja Lembur dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan Pasal 78 ayat (2) yang menyebutkan bahwa Pengusaha yang mempekerjakan pekerja/buruh melebihi waktu kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib membayar upah kerja lembur.
  • Upah yang diberikan kepada tenaga kerja memang lebih besar dari standar UMR Kabupaten Indramayu berikut dengan tunjangan-tunjangan lain yang diberikan perusahaan, tapi upah tersebut masih dipotong oleh perusahaan, yang mengakibatkan upah tersebut tetap berada diposisi lebih rendah dari UMR Kabupaten Indramayu.
5).  Perlindungan sosial bagi tenaga kerja pemeriksaan Rutin NDT peralatan kilang pertamina UP-VI diberikan oleh perusahaan sebagaimana diatur dalam perjanjian, tetapi dalam kenyataan perlindungan sosial tersebut tidak bisa memberikan perlindungan dan kesejahteraan yang maksimal, keanggotaan jamsostek bagi Perusahaan hanya dianggap sebagai persyaratan yang diperlukan dalam proses penagihan ke PT. PERTAMINA (Persero) UP-VI
Balongan tanpa melihat manfaat yang diperoleh para pekerja dari keikutsertaannya dalam keanggotaan Jamsostek. Dengan demikian Perlindungan Hukum bagi Pekerja Pemeriksaan Rutin NDT Peralatan Kilang (Pekerja outsourcing) masih belum maksimal dan masih sangat lemah.
  1. pelaksanaan perlindungan kerja
 Keshy Meida Kurnia Restu (2011), dengan judul “Perlindungan Hukum Bagi Pekerja Outsourcingyang menemukan:
  1. Hubungan hukum yang terjadi antara PT. Sucofindo Cabang Padang, Koperasi Sucofindo, dan pekerja outsourcing terikat dengan sebuah perjanjian kerja sama. Namun yang melakukan perjanjian kerja dengan PT. Sucofindo Cabang Padang adalah Koperasi Sucofindo. Pekerja outsourcing melakukan perjanjian kerja hanya dengan Koperasi

  1. Pelaksanaan kegiatan utama dan kegiatan penunjang pada PT. Sucofindo Cabang Padang adalah kegiatan utama yaitu kegiatan yang berhubungan dengan bidang jasa. Di luar bidang jasa merupakan

kegiatan penunjang PT. Sucofindo Cabang Padang. Pekerja outsourcing tidak hanya ditempatkan pada kegiatan penunjang tetapi juga ditempatkan pada kegiatan utama PT.Sucofindo Cabang Padang. Dalam Pasal 66 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 dijelaskan bahwa pekerja outsourcing tidak boleh ditempatkan pada kegiatan utama atau kegiatan yang berhubungan langsung dengan proses produksi. Namun, PT. Sucofindo Cabang Padang menganggap hal itu tidak terlalu menjadi masalah karena walaupun ditempatkan di kegiatan utama, pekerja outsourcing tersebut tetap mendapatkan perlindungan. Karena apapun yang terjadi adalah tanggung jawab PT. Sucofindo Cabang Padang. Pekerja outsourcing sifatnya hanya membantu. Dan juga dalam perjanjian antara PT. Sucofindo Cabang Padang dengan Koperasi Sucofindo dijelaskan bahwa pekerja outsourcing ditempat yang dibutuhkan oleh PT. Sucofindo Cabang Padang.

  1. Perlindungan hukum yang diberikan kepada pekerja outsourcing Koperasi Sucofindo yang bekerja di PT. Sucofindo Cabang Padang adalah upah, waktu istirahat, dan Jamsostek dan keseluruhannya sampai saat ini berjalan dengan lancar. Untuk upah Koperasi Sucofindo tidak melakukan pemotongan karena sudah mendapatkan fee tersendiri sebesar 15% dari PT. Sucofindo Cabang Padang. Waktu istirahat mengikuti peraturan atau ketentuan PT. Sucofindo Cabang Padang, dan Jamsostek diikutkan dalam tiga program saja yaitu Jaminan Kecelakaan Kerja, Jaminan Pemeliharaan Kesehatan, dan Jaminan Kematian

dengan membayar iuran sebesar 6% dari upah yang diterima tanpa pemotongan. Jadi penghitungannya adalah upah pekerja outsourcingRp. 1.075.300,00 + fee 15% yaitu Rp. 161.295.00 + iuran Jamsostek 6% yaitu Rp. 64.518.00 = Rp. 1.301.113,00. Maka itu adalah jumlah keseluruhan yang akan diminta oleh Koperasi Sucofindo kepada PT. Sucofindo Cabang Padang. Berbeda dengan penelitian di atas, penelitian ini difokuskan pada Implementasi Perlindungan Hukum Bagi Pekerja/Buruh Outsourcingdi Kota Yogyakarta

  1. PHK sesuai undang-undang yang berlaku.
“Pengakhiran hubungan kerja karena suatu hal tertentu yang mengakibatkan berakhirnya hak-hak dan kewajiban (prestrasi dan kontra-prestasi) antara pekerja/buruh dengan pengusaha”  Bila segala upaya telah dilakukan (secara bipartit), dan PHK tidak dapat dihindari, maksud PHK tersebut wajib dirundingkan (membahas mengenai hak-hak atas PHK) oleh pengusaha dengan serikat pekerja/buruh yang bersangkutan (apabila tidak menjadi anggota serikat pekerja/serikat buruh atau tidak ada Serikat Pekerja di perusahaan tersebut.).  Setelah perundingan benar-benar tidak menghasilkan Persetujuan Bersama (PB), pengusaha hanya dapat memutuskan hubungan kerja (PHK) setelah memperoleh penetapan (izin) dari lembaga PPHI. Dengan kata lain, PHK yang tidak terdapat alasan dan normanya dalam UUK, dapat dilakukan dengan besaran hak-haknya harus disepakati melalui perundingan (dituangkan dalam PB)
  1. PHK oleh pihak perusahaan
        1a) PHK karena pekerja/buruh melakukan kesalahan berat (Pasal 158 ayat 4 UUKK);
        2a) PHK karena pekerja/buruh (setelah) ditahan pihak berwajib selama 6 (bulan) berturut-turut disebabkan melakukan tindak pidana di luar perusahaan (Pasal 160 ayat 3 UUKK);
        3a) PHK setelah melalui SP (surat peringatan) I, II, dan III (Pasal 161 ayat 3 UUKK);
  1. PHK oleh pihak tenaker
        1b)  PHK karena pekerja/buruh mengundurkan diri (Pasal 162 ayat 2 UUKK);
            2b) PHK karena pekerja/buruh tidak bersedia melanjutkan hubungan kerja disebabkan adanya perubahan status, penggabungan, peleburan dan perubahan kepemilikan perusahaan ( Pasal 163 ayat 1 UUKK);
            3c) PHK atas permohonan pekerja/buruh kepada lembaga PPHI karena pengusaha melakukan "kesalahan" dan (ternyata) benar (Pasal 169 ayat 2 UUKK)
  1. PHK demi hukum
        1c) PHK karena perusahaan tutup (likuidasi) yang disebabkan mengalami kerugian (Pasal 164 ayat 1 UUKK);
        2c) PHK karena pekerja/buruh meninggal (Pasal 166 UUKK);
        3c) PHK karena memasuki usia pensiun (Pasal 167 ayat 5 UUKK);

  1. jaminan social sesuai undang-undang yang berlaku
jaminan social tenaga kerja menurut undang-undang berlaku ,dasar hukum nya sebagai berikut:
  1. UU NO. 3 THN 1992 jo. UU NO. 25 THN 1997 tentang JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA
  2. PP NO. 14 THN 1993 jo. PP NO. 28 THN 2002 tentang PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA
  3. PP NO. 28 THN 2002 tentang PERUBAHAN PASAL 22 PP NO. 14 THN 1993 perihal SANTUNAN KEMATIAN & BIAYA PEMAKAMAN
  4. KEPPRES NO. 22 THN 1993 tentang PENYAKIT YANG TIMBUL AKIBAT HUBUNGAN KERJA
  5. PERMENAKER NO. 05/ MEN/ 1993 tentang PROGRAM MINIMAL JAMINAN SOSIAL TENAGA KERJA
  Jaminan yg diberikan pada tenaker yg mengalami kecelakaan dalam hubungan kerja (terjadi sewaktu melakukan pekerjaan). Wajib dilakukan & pelaksanaannya tidak boleh dengan pentahapan  pelanggaran terhadap  ketentuan ini diancam dengan sanksi.
Ruang lingkup jkk :
  1. biaya pengangkutan
  2. biaya pemeriksaan, pengobatan, dan/atau perawatan
  3. biaya rehabilitasi
  4. santunan yang berupa uang meliputi :
  5. santunan sementara tidak mampu bekerja
  6. santunan cacad sebagian untuk selama-lamanya;
  7. santunan cacad total untuk selama-lamanya baik fisik maupun mental;
  8. santunan kematian
Bila terdapat pekerja  tertimpa kecelakaan kerja, maka  yang harus dilakukan oleh pengusaha ialah
  1. Pengusaha wajib memberikan P3K bagi tenaga kerja tersebut;
  2. Pengusaha kemudian melaporkan kecelakaan tsb pada kantor Depnaker dan Badan Penyelenggara setempat atau terdekat sebagai laporan kecelakaan kerja tahap I, dalam waktu paling lambat 2x24 jam (dua hari) setelah terjadinya kecelakaan;
  3. Pengusaha wajib juga melaporkan akibat kecelakaan tersebut sesuai dengan surat keterangan Dokter pemeriksa atau Dokter penasehat yang menerangkan bahwa tenaga kerja tersebut:
  • sementara tidak mampu bekerja telah berakhir;
  • cacat sebagian untuk selama-lamanya;
  • cacat total untuk selama-lamanya;
  • meninggal dunia.
  1. Laporan ini sekaligus merupakan pengajuan pembayaran Jaminan Kecelakaan Kerja kepada Badan Penyelenggara dengan melampirkan:
  • foto copy kartu peserta;
  • surat keterangan Dokter tentang tingkat kecacatan yang diderita tenaga kerja tersebut;
  • kuitansi biaya pengobatan dan pengangkutan;
  • dokumen pendukung lain yang diperlukan oleh Badan Penyelenggara.


BAB 3 PENUTUP
  1. kesimpulan
Jadi dari makalah ini dapat disimpulkan bahwa Hukum ketenagakerjaan adalah hukum yang mengatur tentang tenaga kerja. Hukum ketenagakerjaan semula dikenal dengan istilah perburuhan.
Landasan hukum ketenagakerjaan adalah Pancasila dan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945. Asas hukum ketenagakerjaan adalah asas keterpaduan dengan melalui koordinasi fungsional lintas sektoral pusat dan daerah.
Hukum perburuhan bertujuan memberikan perlindungan terhadap buruh/pekerja dalam rangka mewujudkan keadilan sosial, dan perlindungan mana dapat tercipta dengan adanya peraturan-peraturan yang bersifat memaksa, meskipun para pihak (buruh/pekerja dan pengusaha) dapat membuat perjanjian dengan bebas tetapi tidak cukup memberikan perlindungan mengingat kedudukan para pihak tidak sama terutama buruh/pekerja secara sosial ekonois lemah.

Pada hakikatnya, kedudukan buruh secara yuridis berdasarkan ketentuan Pasal 27 UUD 1945 adalah sama dengan majikan. Hukum perburuhan dapat bersifat privat/perdata dan dapat pula bersifat publik. Bersifat privat karena mengatur hubungan antara orang-perorangan (pembuatan perjanjian kerja). Bersifat publik karena pemerintah ikut campur tangan dalam masalah-masalah perburuhan serta adanya sanksi pidana dalam peraturan hukum perburuhan. Kedudukan hukum ketenagakerjaan di dalam tata hukum Indonesia terletak di bidang hukum administrasi/tata negara, hukum perdata, dan hukum pidana
Hukum ketenagakerjaan bersumber pada :
  1. Undang-Undang;
  2. Peraturan Lain : Peraturan Pemerintah, Keputusan Presiden, Peraturan atau Keputusan;
  3. Kebiasaan;
  4. Putusan;
  5. Perjanjian;
  6. Traktat;
 Prinsip hukum kerja adalah “Serangkaian peraturan yang mengatur segala kejadian yang berkaitan dengan bekerjanya seseorang pada orang lain dengan menerima upah”.
Pada hakikatnya hukum kerja dengan semua peraturan perundang-undangan bertujuan melaksanakan keadilan sosial dengan memberikan perlindungan kepada buruh terhadap kekuasaan pengusaha, dengan sifat peraturan yang memaksa dan memberikan sanksi tegas kepada pengusaha yang melanggar. Dengan sifatnya yang memaksa ikut campur pemerintah, membuat hukum kerja menjadi hukum publik dan privat sekaligus.

DAFTAR PUSTAKA
  • Silalahi, Bennett N.B. [dan] Silalahi,Rumondang.1991. Manajemen keselamatan dankesehatan kerja. : Pustaka Binaman Pressindo.
  • Suma'mur .1991. Higene perusahaan dan kesehatan kerja. Jakarta :Haji Masagung
  • Asri Wijayanti, Hukum Ketenagakerjaan Pasca Reformasi,Sinar Grafika, Jakarta, 2009.
  • Dede Agus, Hukum Perburuhan Konvensi ILO, Dinas Pendidikan Provinsi Banten, Serang, 2012.
  • Ikomatussuniah, Diktat Hukum Ketenagakerjaan, Serang, 2013.
  • Zaeni Asyhadie, Hukum Kerja: Hukum Ketenagakerjaan Bidang Hubungan Kerja, PT. Raja Grafindo, Jakarta, 2007.
  • Zainal Asikin, dkk, Dasar-dasar Hukum Perburuhan,PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2014.
  • Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1992 tentang JaminanSosial Tenaga Kerja.
  • Djumadi, S.H., M. Hum., 2004. Perjanjian Kerja. Bnjarmasin: PT. Rajagrafindo Persada.
  • Husni Lalu, S.H., Hum. 2000. Pengantar Hukum Ketenagakerjaan Indonesia. Mataram: PT. Rajagrafindo Persada.
  • Manulang, S. H. 1988. Pokok-Pokok Hukum Ketenagakerjaan di Indonesia. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta.
  • Kumara, A., Utami, M.S., Rosyid, H.F., 2003. Strategi Mengoptimalkan Diri, Balai  Pustaka, Jakarta.
  • Kansil,C.S.T. Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia. Jakarta : PN Balai Pustaka. Cetakan ke-5, 1983.
  • Soepomo, Imam. Hukum Perburuhan Bidang Hubungan Kerja. Jakarta : 1987
  • Soetami,A.Siti. Pengantar Tata Hukum Indonesia. Bandung: Refika Aditama. Cetakan ke-4, 2007.
LAMAN SUREL
http://www.anekamakalah.com/2012/06/makalah-ketenagakerjaan-dan-perburuhan.html
http://arenahukum.ub.ac.id/index.php/arena/article/download/111/113
http://spinsinergi.co.id/tag/makalah-hukum-ketenagakerjaan-outsourcing
gatot_sby.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/29574/PERBURUHAN.pdf
media.leidenuniv.nl/legacy/bbrl-labour-law-final.pdf

disclaimer: artikel ini dilindungi dan tidak dapat di copy and paste
UNDUH VERSI LENGKAP (PDF) DENGAN KLIK --> AKUN SCRIBD SAYA
Read More
KATA PENGANTAR
Bismillahirohmanirrahim.
Pertama saya ingin mengucap syukur atas kehadiran ALLAH SWT dengan kehendak-NYA lah saya dapat menyelesaikan tugas makalah ini dengan baik.

Banyak tantangan serta hambatan dalam menyelesaikan makalah ini dari sekian tantangan ada satu tantangan yang menurut saya sangat berat yaitu menjadikan makalah ini menjadi suatu yang tidak hanya enak dibaca tapi harus juga bisa bermanfaat bagi orang banyak yang membacanya dan juga harus bisa mengubah paradigma tentang islam menjadi lebih baik untuk khalayak ramai pada zaman globalisasi saat ini.

Mengenai hambatan, berbicara mengenai pembuatan karya tidak bisa lepas dari yang bernama hambatan yaitu mencari artikel atau materi yang relevan dengan judul makalah itulah salah satu hambatan yang saya temui, tapi Alhamdulillah dengan seizin-NYA lah saya bisa melalui hambatan tersebut dan dapat membuat makalah ini dengan baik dan tepat waktu.

Makalah ini saya buat bermaksud untuk menguraikan tentang hadist yang menjadi sumber kedua didalam ajaran agama islam, dari sudut pandang saya dan dari pengetahuan tentang hadist yang saya miliki sampai saat ini.

Disadari bahwa makalah ini masih sangat sederhana baik isinya maupun susunannya, maka dari itu segala saran yang bersifat menyempurnakan makalah ini akan diterima dengan senang hati demi menyempurnakan pengetahuan kedepannya, namun harapan penulis semoga makalah ini dapat menambah kepustakaan dalam bidang agama islam, khususnya yang mengenai hadist.

Karawang, 29 desember 2017
Putra septiana


DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB 1 PENDAHULUAN
  1. A. rumusan masalah
  2. B. tujuan penulisan makalah
  3. C. manfaat penulisan makalah

BAB 2 PEMBAHASAN
  1. pengertian hadist
  2. bentuk-bentuk hadist
  3. unsure-unsur pokok hadist
  4. perbandingan hadist dengan alquran
  5. tokoh-tokoh ulama hadist
  6. hadist dalam periode awal
  7. Hadist dalam periode pertengahan
  8. Hadist dalam periode masa kini
  9. tanda-tanda hadist maudlu’
  10. kedudukan hadist sebagai sumber hukum islam
  11. Islam dalam pengertian sebenarnya

BAB 3 PENUTUP
  1. simpulan

DAFTAR PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN
Kata hadist bisa berarti baru lawan kata lama, bisa juga berarti dekat dan juga bisa berarti berita. Dalam terminology islam istilah hadist berarti melaporkan/mencatat sebuah pernyataan dan tingkah laku dari nabi Muhammad. Namun pada saat ini kata hadist mengalami perluasan makna, sehingga disinonimkan dengan sunnah, atsar dan taqrir, maka bisa berarti segala perkataan (sabda), perbuatan, ketetapan, maupun persetujuan dari nabi Muhammad yang dijadikan ketetapan ataupun hukum.
Secara struktur hadist terdiri dari 2 komponen utama yakni sanad dan matan.

Klasifikasi hadist menurut dapat “diterima” atau “ditolaknya” hadist sebagai hujjah (dasar hukum) adalah hadist shohih, hadist hasan dan hadist dhoif.
Hadist memiliki kedudukan yang tinggi dalam penetapan hukum islam, tentunya setelah alquran yang merupakan sumber dari segala hukum islam. Demikian pentingnya posisi hadist dalam agama islam, maka hadist senantiasa berkembang dalam arti penelitian terhadap keabsahan materi hadist itu sendiri maupun dari keterpercayaan sanad-sanadnya. Hadist juga dikatakan sebagai penjelas dari ayat-ayat alquran, terutama terhadap ayat-ayat mustasyabihat.

Disamping juga memberikan kelengkapan dasar hukum islam yang belum atau tidak termaktub dalam alquran.
Karena keberadaannya sebagai sumber ajaran islam, alquran dan hadist telah menjadi focus perhatian umat islam sejak zaman nabi sendiri sampai sekarang. Namun, berbeda dengan alquran perkembangan hadist tidak semulus alquran. Berbagai keraguan bahkan penolakan muncul seiring pertumbuhan study terhadap hadist itu sendiri.

Keraguan tersebut lebih memuncak ketika munculnya golongan yang mengingkari hadist (inkarussunnah), kelompok ini memiliki argumentasi sendiri atas sikap mereka itu (azami, 1994: 42)
  1. A. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan secara umum dapat dirumuskan masalah sebaagai berikut :
  1. Apa pengertian dari hadist ?
  2. Siapa saja tokoh-tokoh ulama hadist ?
  3. Bagaimana saja sejarah & periode-periode penyebaran hadist ?
  4. Bagaimana kedudukan hadist sebagai sumber hukum islam ?
  5. Bagaimana islam dalam pengertian sebenarnya ?

  1. B. TUJUAN PENULISAN
  2. Dapat memahami pengertian daripada hadist.
  3. Mengetahui tokoh-tokoh ulama hadist.
  4. mengetahui & dapat memahami sejarah dan periode-periode penyebaran hadist
  5. memahami kedudukan hadist sebagai sumber hukum islam
  6. memahami islam dalam pengertian sebenarnya.
       
  1. C. MANFAAT PENULISAN
            Penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi yang membacanya, terutama bagi mereka yang ingin menambah wawasan mengenai hadist dan ilmu yang berkaitan dengan nya dan juga semoga makalah ini enak untuk dibaca dan dipahami oleh khalayak ramai.


BAB 2 PEMBAHASAN
  1. PENGERTIAN HADIST
H
adist atau alhadits menurut bahasa aljadid yang artinya sesuatu yang baru. Lawan dari alqadim, artinya yang berarti menunjukan kepada waktu yang dekat atau waktu yang singkat seperti (orang yang baru masuk/memeluk agama islam). Hadis juga sering disebut dengan alkhabar, yang berarti berita yaitu sesuatu yang dipercakapkan dan dipindahkan dari seseorang kepada orang lain, sama maknanya dengan hadits.

Hadits dengan pengertian khabar sebagaimana tersebut diatas dapat dilihat pada beberapa ayat alquran, seperti QS. Al-thur (52):34 – QS. Al-kahfii (18):6 – dan QS. Ad-dhuha (93):11.
فَلْيَأْتُوا بِحَدِيثٍ مِثْلِهِ إِنْ كَانُوا صَادِقِينَ
(Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal Al Quran itu jika mereka orang-orang yang benar.) QS. Al-thur (52):34

فَلَعَلَّكَ بَٰخِعٌ نَّفْسَكَ عَلَىٰٓ ءَاثَٰرِهِمْ إِن لَّمْ يُؤْمِنُوا۟ بِهَٰذَا ٱلْحَدِيثِ أَسَفًا
(Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al-Quran).) QS. Al-kahfii (18):6

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
(Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan.) QS. Ad-dhuha (93):11.

Demikian pula dapat dilihat pada hadits berikut :
“hampir-hampir ada seseorang diantara kamu yang akan mengatakan ini kitab allah apa yang halal di dalamnya kami halalkan dan apa yang haram didalamnya kami haramkan. Ketahuilah barang siapa yang sampai kepadannya suatu hadist dariku kemudian ia mendustakannya, berarti ia telah mendustakan tiga pihak, yakni ALLAH SWT, rasul, dan orang yang menyampaikan hadits tersebut”

Sedangkan menurut istilah/terminology, para ahli memberikan definisi/ta’rif yang berbeda-beda sesuai dengan latar belakang disiplin ilmunnya. Seperti pengertian hadist menurut ahli ushul akan berbeda dengan pengertian yang diberikan oleh ahli hadist.
Menurut ahli hadist, pengertian hadist ialah:

“segala perkataan nabi, perbuatan, dan hal ihwalnnya”

Yang dimaksud dengan hal ihwalnnya ialah segala yang diriwayatkan dari nabi. Yang berkaitan dengan himmah, karakteristik, sejarah kelahiran, dan kebiasaan-kebiasaanya. Ada juga yang memberikan pengertian lain:
“sesuatu yang disandarkan kepada nabi, baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir, maupun sifat beliau.”
Sebagian muhadditsin berpendapat bahwa pengertian hadits diatas merupakan pengertian yang sempit. Menurut mereka, hadist mempunyai cakupan pengertian yang lebih luas; tidak terbatas pada apa yang disandarkan kepada nabi.

(hadist marfu’) saja, melainkan termasuk juga yang disandarkan kepada para sahabat (hadist mauquf’) dan tabi’in (hadist maqtu’) sebagaimana yang disebutkan oleh althirmizi:
“bahwasanya hadist itu bukan hanya untuk sesuatu yang marfu’ yaitu sesuatu yang disandarkan kepada nabi; melainkan bias juga untuk sesuatu yang mauquf’ yaitu yang disandarkan kepada sahabat dan yang maqtu’ yaitu yang disandarkan kepada tabi’in”

Sementara para ulama ushul memberikan pengertian hadist adalah:
“segala perkataan nabi, perbuatan, dan taqrirnya yang berkaitan dengan hukum syara’ dan ketetapannya”
Berdasarkan pengertian hadits menurut ahli ushul ini jelas bahwa hadist adalah segala sesuatu yang bersumber dari nabi, baik ucapan, perbuatan maupun ketetapan yang berhubungan dengan hukum atau ketentuan-ketentuan allah yang diisyaratkan kepada manusia. Selain itu tidak bisa dikatakan hadist.

Ini berarti bahwa ahli ushul membedakan diri Muhammad sebagai rasul dan sebagai manusia biasa. Yang dikatakan hadist adalah sesuatu yang berkaitan dengan misi dan ajaran ALLAH SWT yang diemban oleh Muhammad saw, sebagai rasulullah.
Inipun, menurut mereka harus berupa ucapan dan perbuatan beliau serta ketetapan-ketetapannya.

Sedangkan kebiasaan-kebiasaan, tata cara berpakaian, cara tidur dan sejenisnya merupakan kebiasaan manusia dan sifat kemanusiaan tidak dapat dikategorikan sebagai hadist dengan demikianlah, pengertian hadist menurut ahli ushul lebih sempit dibanding dengan pengertian hadist menurut ahli hadist.
  1. BENTUK-BENTUK HADIST
Sebagaimana seperti uraian diatas telah disebutkan bahwa hadist mencangkup segala perkataan, perbuatan, dan taqrir nabi. Oleh karena itu pada bahasan ini akan saya uraikan tentang bentuk-bentuk hadist.
  1. hadist qauli
Yang dimaksud dengan hadist qauli adalah segala yang disandarkan kepada nabi. Yang berupa perkataan atau ucapan yang memuat berbagai maksud syara’, peristiwa, dan keadaan, baik yang berkaitan dengan aqidah, syariah, akhlak, maupun yang lainnya.

Diantara contoh hadist qauli ialah hadist tentang doa rasul. Yang ditujukan kepada yang mendengar, menghafal, dan menyampaikan ilmu. Hadist itu berbunyi:
“semoga allah memberikan kebaikan kepada orang yang mendengarkan perkataan dariku kemudian menghafal dan menyampaikannya kepada orang lain, karena banyak orang berbicara mengenai fiqh padahal ia bukan ahlinnya. Ada 3 sifat yang karenanya tidak timbul rasa dengki dihati seorang muslim, yaitu ikhlas beramal semata-mata kepada ALLAH SWT menasehati, taat dan patuh kepada pihak penguasa; dan setia terhadap jama’ah. Karena sesungguhnya doa mereka akan memberikan motivasi dari belakang” (HR AHMAD)

Contoh lain hadist tentang bacaan alfatihah dalam shalat yang berbunyi:
“tidak sah shalat seseorangyang tidak membaca fatihah alkitab” (HR MUSLIM)
  1. hadist fi’li
Dimaksudkan dengan hadist fi’li adalah segala yang di sandarkan kepada nabi berupa perbuatannya yang sampai kepada kita. Seperti hadist tentang shalat dan haji. Contoh hadist fi’li tentang shalat adalah sabda nabi yang berbunyi:
عَنْ مَالِكٌ (قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ): وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي   (رواه البخاري)
“shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat” (HR BUKHARI)
Contoh lain, hadist yang berbunyi:
“nabi shalat diatas tunggangannya, kemana saja tunggangannya itu menghadap” (HR ALTIRMIDZI)
  1. hadist hammi
Yang dimaksud dengan hadist hammi adalah hadist yang berupa hasrat nabi yang belum terealisasikan, seperti halnya hasrat berpuasa tanggal 9 ‘asyura. Dalam riwayat ibn abbas, disebutkan sebagai berikut:
“ketika nabi berpuasa pada hari asyura dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa, mereka berkata: ya nabi! Hari ini adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang yahudi dan nasrani, nabi bersabda: tuhan yang akan datang insya ALLAH aku kan berpuasa pada hari kesembilan” (HR MUSLIM)

Nabi belum sempat merealisasikan hasratnya ini, karena wafat sebelum sampai bulan ‘asyura. Menurut imam syafi’i dan para pengikutnya, bahwa menjalankan hadist hammi ini disunnahkan sebagaimana sunnnah-sunnah yang lainnya.
  1. hadist ahwali
Yang dimaksud dengan hadist ahwali ialah hadist yang berupa hal ihwal nabi, yang menyangkut keadaan fisik, sifat-sifat dan keperibadiannya. Tentang keadaan fisik nabi dalam beberapa hadist disebutkan, bahwa fisiknya tidak terlalu tinggi dan tidak pendek, sebagaimana yang dikatakan oleh albarra dalam sebuah hadist riwayat bukhari sebagai berikut:
“rasul adalah manusia yang sebaik-baiknya rupa dan tubuh keadaan fisiknya tidak tinggi dan tidak pendek” (HR  BUKHARI)
Pada hadist lain disebutkan:
“berkata anas bin malik: aku belum pernah memegang sutra murni dan sutra berwarna (yang halus) sehalus telapak tangan rasul juga belum pernah mencium wewangian seharum rasul” (HR BUKHARI)
  1. UNSUR-UNSUR POKOK HADIST
  2. sanad
Kata sanad menurut bahasa adalah “sandaran” atau sesuatu yang kita jadikan sandaran. Dikatakan demikian, karena hadist bersandar kepadanya. Menurut istilah, terdapat perbedaan rumusan pengertian, albadru bin jama’ah dan althiby mengatakan bahwa sanad adalah:
“berita tentang jalan matan”

Yang lain menyebutkan:
“silsilah orang-orang (yang meriwayatkan hadist), yang menyampaikan nya kepada matan hadist”

Ada juga yang menyebutkan:
“silsilah para perawi yang menukilkan hadist dari sumbernya yang pertama”
Yang berkaitan dengan istilah sanad, terdapat kata-kata seperti al-isnad, almusnid, dan almusnad. Kata-kata ini secara terminologis mempunyai arti yang cukup luas, sebagaimana yang dikembangkan oleh para ulama.

Kata alisnad berarti menyandarkan, mengasalkan (mengembalikan ke asal) dan mengangkat. Yang dimaksud disini ialah menyandarkan hadist kepada orang yang mengatakannya (raf’ u hadist ila qa’ilih atau azwu hadist ila qa’ilih). Menurut althiby sebenarnya kata isnad dan sanad digunakan oleh para ahli hadist dengan pengertian yang sama.

Kata almusnad mempunyai beberapa arti bisa berarti hadist yang disandarkan atau diisnadkan oleh seseorang; bisa berarti nama suatu kitab yang menghimpun hadist hadist dengan system penyusunan berdasarkan nama-nama para sahabat para perawi hadist, seperti kitab musnad ahmad; bisa juga berarti nama bagi hadist yang marfu’ dan muttashil.
  1. matan
            Kata matan atau almatan menurut bahasa berarti “tanah yang meninggi” sedang menurut istilah: “sesuatu kalimat tempat berakhirnya sanad” Ada juga redaksi yang lebih simple lagi yang menyebutkan bahwa matan adalah ujung sanad ( gayah assanad) dari semua pengertian diatas menunjukan bahwa yang dimaksud dengan matan adalah materi atau lafaz hadist itu sendiri.
  1. rawi
            Kata rawi atau alrawi berarti orang yang meriwayatkan atau memberitakan hadist. Sebenarnya antara sanad dan rawi itu merupakan 2 istilah yang tidak dapat dipisahkan. Sanad-sanad hadist pada tiap-tiap tabaqahnya juga disebut rawi jika yang dimaksud dengan rawi adalah orang yang meriwayatkan dan memindahkan hadist.

Akan tetapi yang membedakan antara rawi dan sanad, adalah terletak pada pembukuan atau pentandwinan hadist. Orang yang memerima hadist kemudian menghimpunnya dalam suatu kitab tadwin disebut dengan perawi. Dengan demikian, maka perawi dapat disebut mudawwin (orang yang membukukan dan menghimpun hadist)

Untuk lebih jelas dapat membedakan antara sanad, rawi, dan matan, sebagaimana yang diuraikan diatas, ada baiknya melihat contoh hadist dibawah ini:
“telah menceritakan kepadaku Muhammad bin ma’mur bin rabi’I alqaisi, katanya: telah menceritakan kepadaku abu hisyam almahzumi dari abu alwalid yaitu ibn ziyad katanya: telah menceritakan kepada Muhammad bin al-munzakir dari amran dari usman bin affan ra ia berkata: barang siapa yang berwudlu dengan sempurna (sebaik-baiknya wudhu) keluarlah dosa-dosa nya dari seluruh badannya bahkan dari bawah kukunya” (HR MUSLIM)

Dari nama Muhammad bin ma’mur bin rabi’I alqaisi sampai dengan usman bin affan ra adalah sanad dari hadist tersebut, mulai kata man tawaddha’a sampai dengan kata tahta azhfarih adalah matannya. Sedang imam muslim yang dicatat di ujung hadist adalah perawinnya yang juga disebut mudawwin.

Adapun fungsi dari hadist adalah menetapkan dan menguatkan hukum-hukum yang sudah di tetapkan oleh alquran, merinci dan menafsirkan ayat-ayat alquran yang masih global (bayan tafshil), membatasi ayat alquran yang masih mutlaq/umum (bayan taqyid), dan mengkhususkan ayat alquran yang masih umum, serta menetapan hukum yang belum ditetapkan oleh alquran.
  1. PERBANDINGAN HADIST DENGAN ALQURAN
  2. persamaannya
hadist dan alquran sama-sama sumber ajaran islam, bahkan pada hakikatnya kedua-duanya sama-sama wahyu dari ALLAH SWT
  1. 2. perbedaannya
alquran adalah kalamullah yang diwahyukan ALLAH SWT lewat malaikat jibril secara lengkap berupa lafadh dan sanadnya sedangkan hadist berasal dari rosulullah sendiri. Membaca alquran hukumnya ibadah dan syah membaca ayat-ayatnya didalam shalat sementara tidak demikian dengan hadist.

Keseluruhan ayat alquran diriwayatkan oleh rosulullah secara mutawatir, yaitu periwayatan yang menghasilkan ilmu yang pasti dan yakin keotentikannya pada setiap generasi dan waktu maka nash-nash alquran bersifat pasti wujud atau qoth’I assubut.

Hadist sebagian besar bersifat ahad dan zhanni alwurud yaitu tidak diriwayatkan secara mutawatir kalaupun ada hanya sedikit sekali yang mutawatir lafadh dan maknanya. Memiliki hukum dasar yang isinya pada umumnya bersifat mujmal dan mutlak sedangkan hadist sebagai ketentuan-ketentuan pelaksanaannya (praktisnya).
  1. TOKOH-TOKOH ULAMA HADIST
Ilmu rijalul hadist adalah suatu cabang dari pada ilmu-ilmu hadist tidaklah sempurna ilmu seseorang dalam bidang hadist, apabila dia tidak mendalami ilmu ini dari ilmu inilah berpokoknya ilmu jarh wat ta’dil
Untuk melengkapi kuliyah hadist, disamping mempelajari secara mendalam ilmu mushthalah ahli hadist, hendaklah pula didalami ilmu rijalnya karena melengkapi diri dengan ilmu-ilmu ini adalah syarat mutlak dalam usaha membangun pemahaman yang mendalam mengenai hadist yang menjadi sumber ajaran islam
Maka didalam mempelajari sejarah ulama hadist hendaklah diperhatikan:
  1. namanya, kun-yahnya, laqabnya, tempat kelahiran dan tempat wafatnya.
  2. guru-gurunya yang memberikan hadist kepadanya
  3. murud-murid atau ulama-ulama yang menerima hadist daripadanya.
  4. kedudukan dalam ilmu hadist serta hasil karyanya.
Berikut adalah tokoh-tokoh rijalul hadist dari kalangan sahabat
  1. abu hurairah
  2. Abdullah ibnu umar
  3. anas ibn malik
  4. aisyah ashshiddiqiah
  5. Abdullah ibnu abbas
  6. jabir ibn abdillah
  7. abu said alkhudry
  8. Abdullah ibn masud
  9. abuth thufail

  1. HADIST DALAM PRIODE AWAL (ZAMAN ROSUL)
  2. Masa pertumbuhan hadist dan jalan-jalan para sahabat memperolehnya

Rosul hidup di tengah-tengah masyarakat sahabatnya. Mereka dapat bertemu dan bergaul dengaan beliau secara bebas. Tak ada ketentuan yang menghalangi mereka bergaul dengan beliau yang tidak dibenarkan hanyalah mereka langsung masuk kerumah nabi, dikala beliau tak ada dirumah, dan berbicara dengan para istri nabi, tanpa hijab.

Seluruh perbuatan nabi, demikian juga seluruh ucapan dan tutur kata beliau menjadi tumpuan perhatian para sahabat, segala gerak-gerik beliau mereka jadikan pedoman hidup. Berdasarkan kepada kesungguhan meniru dan meneladani beliau, berganti-gantilah para sahabat yang jauh rumah dari masjid, mendatangi majlis-majlis nabi.

Umar ibnul khathtab, menurut riwayat al-bukhari menerangkan:
aku dan seorang temanku (tetanggaku) dari golongan anshar bertempat dikampung umaiyah ibn yazid, sebuah kampong jauh dari kota madinah kami berganti-gantian dating kepada rosul. Kalau hari ini aku yang turun esok tetanggaku yang pergi. Kalau aku turun, aku beritakan kepada tetanggaku apa yang aku dapati dari rosulallah kalau dia yang pergi, demikian juga, pada suatu hari, pada hari gilirannya, sahabatku pergi. Sekembalinnya, dia mengetuk pintu rumahku dengan keras serta berkata: adakah umar didalam? Aku terkejut lalu keluar mendapatinya, ia menerangkan bahwa telah terjadi suatu keadaan penting. Rosul telah mentalak isteri-isterinya. Aku berkata: memang sudah kuduga terjadi peristiwa ini, sesuadah saya bersembahyang subuh, saya pun berkemas lalu pergi. Sesampai dikota, saya masuk kerumah hafshah. Saya dapati dia sedang menangis, maka saya bertanya: apakah engkau telah ditalak oleh rosul? Hafshah menjawab: saya tak tahu. Sejurus kemudian saya masuk ke bilik nabi, sambil berdiri saya berkata: apakah anda telah mentalak isteri-isteri anda? Nabi menjawab: tidak. Dikala saya pun mengucapkan Allahu Akbar!

Riwayat ini menerangkan, bahwa para sahabat sangat benar memperhatikan gerak-gerik nabi dan sangat benar memerlukan untuk mengetahui segala apa yang disabdakan nabi, mereka meyakini, bahwa mereka diperintahkan mengikuti dan mentaati nabi.

Kabilah-kabilah yang tinggal jauh dari kota madinah selalu mengutus salah seorang anggota nya pergi mendatangi nabi untuk mempelajari hukum-hukum agama. Dan sepulang mereka dari kampungnya, mereka segera mengajar kawan-kawannya sekampung.

Diberitakan albukhari dalam shahihnya dari uqbah ibn la-harits, bahwa seorang wanita menerangkan kepadanya (‘uqbah) bahwa dia telah menyusui uqbah dan isterinya, mendengar itu uqbah yang dikala itu berada dimekah terus berangkat menuju ke madinah.

Sesampai kepada nabi, uqbah pun bertanya tentang hukum ALLAH mengenai seseorang yang memperistrikan saudara susunya, tanpa mengetahuinya, kemudian baru diterangkan oleh yang menyusui mereka. Maka nabi menjawab kaifa wa qad qila yang artinya betapa, padahal telah diterangkan orang.

Diriwayatkan oleh malik dari atha ibn yassar bahwa seorang lelaki dari sahabat mengirimkan istrinya untuk bertanya kepada rosul tentang hukum mencium isteri dikala berpuasa, maka ummu salamah memberitahukan kepada wanita yang bertanya itu, bahwa nabi pernah menciumnya dikala beliau sedang berpuasa. Wanita tersebut menerangkan hal itu kepada suaminya. Maka suaminya itu berkata: “aku bukan seperti rosulallah, ALLAH menghalalkan bagi rosulnya apa yang dikehendaki.”

Para sahabat menerima hadist (syariat) dari rosul. Adakala langsung dari beliau sendiri, yakni mereka langsung mendengar sendiri dari nabi, baik karena ada sesuatu soal yang dimajukan oleh seseorang lalu nabi menjawabnya, ataupun karena nabi sendiri yang memulai pembicaraan, adakala tidak langsung yaitu menerima dari sesama sahabat yang telah menerima dari nabi, atau mereka menyuruh seseorang bertanya kepada nabi, jika mereka sendiri malu bertanya.
  1. sebab-sebab hadist ditulis setiap-tiap nabi menyampaikannya
Semua penulis sejarah rasul, ulama hadist dan umat islam sependapat menetapkan bahwa al-quranul karim memperoleh perhatian yang penuh dari rosul dan dari para sahabat.

Rosul memerintahkan para sahabat untuk menghafal alquran dan menulisnya dikeping-keping tulang, di pelepah korma, dan dibatu-batu. Ketika rosulallah wafat, alquran telah dilafal dengan sempurna dan telah lengkap ditulis, hanya yang belum, dukumpulkan dalam sebuah mushaf saja.

Hadist dan sunah, walaupun merupakan sumber yang penting pula dari sumber-sumber tasyri, tidak memperoleh perhatian yang demikian. Dia tidak ditulis secara resmi , tidak diperintahkan orang menulisnya, seperti perintah menuliskan alquran.

Boleh jadi, perbedaan-perbedaan perhatian dan tidak membukukan hadist disebabkan oleh factor-faktor ini:

            a).        mentadwinkan ucapan-ucapannya, amalan-amalannya, muamalah-muamalahnya adalah suatu keadaan yang sukar, karena memerlukan adanya segolongan sahabat yang terus-menerus harus menyertai nabi untuk menulis segala yang tersebut diatas padahal orang-orang yang dapat menulis pada masa itu masih dapat dihitung.

            b).        karena orang arab, disebabkan mereka tak pandai menulis dan membaca tulisan kuat berpegang kepada kekuatan hafalan dalam segala apa yang mereka ingin menghafalnya.

            c).        karena dikhawatirkan akan bercampur dalam catatan sebagian sabda nabi dengan alquran dengan tidak sengaja.
  1. HADIST DALAM PERIODE PERTENGAHAN (MASA PEMBUKUAN DAN PENGUMPULAN HADIST)
  2. permulaan zaman pembukuan hadist
Sudah dapat difahamkan bahwa dalam abad pertama hijrah, mulai dari zaman rasul, masa khalifah rasyidin dan sebagian besar zaman amawiyah, yakni hingga akhir abad pertama hijriah, hadist-hadist itu berpindah mulut dari mulut ke mulut.

Masing-masing perawi meriwayatkan berdasarkan kepada kekuatan hafalannya.
Pada masa itu mereka belum terdorong untuk membukukannya. Hafalan mereka terkenal kuat, diakui sejarah kekuatan hafalan para sahabat dan tabi’in itu.

Dikala kendali khalifah di pegang oleh umar ibn abdil aziz yang dinobatkan dalam tahun 99 hijriah seorang khalifah dari dinasti amawiyah yang terkenal adil dan wara’. Sehingga beliau dipandang sebagai khalifah rasyidin yang kelima, tergeraklah hatinya untuk membukukan hadits.

Beliau sadar bahwa para perawi yang membendaharakan hadist dalam kepalanya, kian lama kian banyak yang meninggal. Beliau khawatir apabila tidak segera dibukukan dan dikumpulkan dalam buku-buku hadist dari para perawinya, mungkinlah hadist-hadist itu akan lenyap dari permukaan bumi dibawa bersama oleh para penghafalnya ke alam barzah.

Para pengumpul pertama hadist yang tercatat dalam sejarah:
                        a).        di mekkah, ibnu juraij (669 masehi – 767 masehi)
                        b).        di madinah, ibnu ishaq (151 masehi – 768 masehi)
                        c).        di bashraah, al rabi ibn shabih ( 777 masehi)
                        d).        di kufah, sufyan ats tsaury (161 hijriah)
                        e).        di syam, al auza’y (156 hijriah)
                        f).         di wasith, husyaim al wasithy (772 masehi – 804 masehi)
                        g).        di yaman, ma’mar al azdy (753 masehi – 770 masehi)
                        h).        di rei, jarir al dlabby (728 masehi – 804 masehi)
                        i).         di khurasan, ibn Mubarak (735 masehi – 797 masehi)
                        j).         di mesir, al laits ibn saad (175 hijriah)

  1. HADIST DALAM PERIODE MASA KINI (656 H – SEKARANG)
  2. india dan mesir memegang peranan penting dalam perkembangan hadist.
Mulai dari masa Baghdad dihancurkan oleh hulagu khan, berpindahlah kegiatan perkembangan hadist ke mesir dan india. Dalam masa ini banyaklah kepala-kepala pemerintahan yang berkecimpung dalam bidang ilmu hadist seperti albarquq.
  1. kitab hadist yang disusun dalam abad ke 7 hijriah
a).        altarghib, susunan alhafidh albdul adhim ibn abdil qawy ibn Abdullah almundziry (656 H).kitab ini salah sebuah kitab yang paling baik caranya dalam mengumpulkan hadist dan menerangkan derajatnya. Alangkah baiknya sekirannya semua kitab hadist disusun menurut tarikah ini.

b).        muntaqal akbar fil ahkami, susunan majduddin abul barakat abdis salam ibn abdillah ibn abil qasim alharrany (652 H)

c).        aljami’ bainash shahihain, susunan ahmad ibn Muhammad alqurthuby yang dikenal dengan nama ibnu hujjah (642 H)
  1. kitab-kitab hadist yang disusun dalam abad 8 hijriah
a).        jami’ul masanid was sunan alhadi ila aqwani sanan susunan alhafidh ibnu katsir (774 H)

b).        alilman fi ahaditsil ahkam, susunan al imam ibnu daqiqil ied (707 H), kitab ini telah disyarahkan oleh pengarangnya dalam kitab al imam.
  1. kitab-kitab hadist yang disusun dalam abad ke 9 hijriah
a).        ith haful khiyar bi zawaidil masanidil asyrah, susunan Muhammad ibn abu bakr albaghawy (804 H) dalam kitab ini diterangkan zawaid yang tak terdapat dalam kitab 6, yang diambil dari musnad ath thayalisy, al humaidy, musnad musaddad ibn musarhad, musnad muhammad ibn yahya ibn amer aladany, musnad ibn rahaweh, musnad ibn abi syaibah, ahmad ibn mani’, musnad ahmad ibnu humaid, musnad alharits ibn Muhammad ibn abi salamah dan musnad abu ya’la almushily

b).        bulughul haram, susunan alhafidh alasqalany, didalamnya dikumpulkan sejumlah 1.400 hadist

c).        majma’uzzawaid wa mamba’ul fawaid, susunan alhafidh abil hasan ali ibn abi bakr ibn sulaiman asy syafi’y alhaitamy (1303 H)

didalamnya dikumpulkan zawaid dari musnad-musnad ahmad abu ya’la, al bazzar dan mu’jam ath thabarany.
  1. kitab-kitab hadist yang disusun dalam abad ke 10 hijriah
a).        jam’ul jawami susunan alhafidh as sayuthy
didalamnya dikumpulkan seluruh hadist kitab 6 dan lain-lain tetapi belum sempurna didalamnya terdapat banyak hadist maudlu’

b).        al jami’ush shaghir min ahaditsil basyirin nadzir, susunan as sayuhty

c).        lubabul hadits, oleh as sayuhty
kitab ini telah disyarahkan oleh Muhammad nawawy dalam kitab tanqihul qaulil hadist.

  1. TANDA-TANDA HADIST MAUDLU’
Tanda-tanda kemaudluan hadist, terbagi menjadi:
Pertama, tanda-tanda yang diperoleh pada sanad, dan kedua, tanda-tanda yang diperoleh pada matan.
            Tanda-tanda pada sanad
  1. perawi itu terkenal berdusta dan hadistnya tidak diriwayatkan, oleh orang yang dapat dipercaya. Para ulama telah membahas dengan sedalam-dalam orang-orang yang dusta itu dalam kitab-kitab jarh dan ta’dil.
  2. pengakuan perawi itu sendiri, abu ishmah nuh ibn abi maryam mengaku sendiri bahwa ia telah memalsukan hadist mengenai keutamaan surat-surat alquran. Dan sebagai akuan abdul karim ibn abil auja yang mengaku telah membuat 4000 hadist, mengenai hukum halal dan haram.
  3. menurut sejarah mereka tak mungkin bertemu. Perawi yang meriwayatkan suatu hadist dari seorang syaikh tersebut meninggal, atau tak pernah ia dating ke tempat syaikh itu, yang dikatakan disanalah ia mendengar hadist.
            Ma’mun ibn ahmad al sarawy mendakwa, bahwa ia ada mndengar hadist dari hisyam ibn ammer kepada ibnu hibban. Maka ibu hibban berkata: “bila engkau ke kota syam?“

Ma’mun menjawab: “ pada tahun 250 H. “ mendengarkan itu ibnu hibban berkata “ hisyam meninggal dunia tahun 245 H”

Di ketika Abdullah ibn ishaq al kirmany, menerangkan bahwa ia ada mendengar hadist dari Muhammad ibn yacub, ditolak dakwaannya dengan alas an bahwa Muhammad ibn yacub itu meninggal dunia 9 tahun sebelum Abdullah ibn ishaq lahir.

Pokok pegangan kita dalam menghadapi soal ini tarikh rijal, seperti: kitab mizanul I’ tidal karangan adz dzahaby.
  1. keadaan perawi-perawi sendiri serta dorongan membuat hadist, dapat diketahui, bahwa hadist maudlu dengan memperhatikan keadaan-keadaan karinah yang mengelilingi perawi kala ia meriwayatkan hadist tersebut.

Diriwayatkan oleh hakim dalam kitab nya dari saif ibn amer ath thayiby ujarnnya: “ pada suatu hari kami berada di tempat sa’ad ibn tharif maka datanglah anaknya terengah-engah sambil menangis.

Saad bertanya mengapa engkau? Anaknya menjawab saya dipukul oleh guru dikala itu saad mengeluarkan sebuah hadist, seraya berkata, saya akan menjelekan pekerjaan itu” diriwayatkan kepadaku oleh ikrimah dari abbas dari nabi:

guru anak-anak itu adalah orang-orang yang paling buruk pekerjaannya dari kami. Mereka paling kurang merahmati anak-anak yatim dan paling kesat hatinya terhadap orang-orang miskin”

Dan seumpama hadist: “harisah itu menguatkan belakang (punggung)”
Hadist ini dibuat oleh Muhammad ibn alhajjaj annakha’y seorang penjual harisah (semacam makanan yang dibuat dari gandum yang ditumbuk dan dicampur daging, serupa bubur kental)
Tanda-tanda pada matan:
                        a).        buruknya susunan dan lafadhnya
                        b).        rusak maknannya
                        c).        menyalahi keterangan alquran yang terang, keterangan sunnah mutawatirah dan kaidah-kaidah kulliyah
                        d).        menyalahi hakikat sejarah yang telah terkenal di masa nabi SAW
                        e).        sesuai hadist dengan mahzab yang dianut oleh rawi, sedang rawi itu pula orang yang sangat fanatic kepada mahzabnya
                        f).         menerangkan urusan yang menurut seharusnya, kalau ada, dinukilkan oleh orang ramai
                        g).        menerangkan suatu pahala yang sangat besar terhadap perbuatan yang sangat  kecil, atau siksa yang sangat besar, terhadap                                            suatu perbuatan yang kecil.
  1. sebab-sebab timbul usaha pemalsuan hadis
Pertama - perselisihan politik dalam soal khalifah.
Kedua – zandaqah ( rasa dendam yang bergelimang dalam hati sanubari golongan yang tidak menyukai kebangunan islam dan kejayaan pemerintahannya).
Ketiga – ashbiyah (fanatic kebangsaan, kekabilahan, dan keimanan).
Keempat – keinginan menarik minat para pendengar dengan kisah-kisah pengajaran dan hikayat-hikayat yang menarik.
Kelima – perselisihan faham dalam masalah fiqh dan masalah kalam.
Keenam – pendapat yang membolehkan orang membuat hadist untuk kebaikan.
Ketujuh – mendekatkan diri kepada pembesar-pembesar negeri

Golongan-golongan yang memalsukan hadist:
Dengan memperhatikan uraian diatas, nyatalah bahwa golongan-golongan yang membuat hadist palsu itu, 9 golongan:
                        a).        zanadiqah
                        b).        penganut-penganut bid’ah
                        c).        orang-orang dipengaruhi fanatic kepartaian
                        d).        orang-orang yang dipengaruhi ta’ashshub mahzab
                        e).        para qushshash (ahli riwayat dongeng)
                        f).         para ahli tasawuf zuhhad yang keliru
                        g).        orang-orang yang mencari penghargaan pembesar negeri
                        h).        orang-orang yang ingin memegahkan dirinya dengan dapat meriwayatkan hadist-hadist yang tidak diperoleh orang lain.

  1. KEDUDUKAN HADIST SEBAGAI SUMBER HUKUM ISLAM
Seluruh umat islam telah sepakat bahwa hadist rasul merupakan sumber dan dasar hukum islam setelah alquran, dan umat islam wajib mengikuti hadist sebagaimana diwajibkan mengikuti alquran.

Alquran dan hadist merupakan 2 sumber hukum syariat islam yang tetap, yang orang islam tidak mungkin memahami syariat islam secara mendalam dan lengkap tanpa kembali pada kedua sumber islam tersebut. Seorang mujtahid dan seorang alim pun tidak diperbolehkan hanya mencukupkan diri dengan salah satu dari keduannya.

Banyak ayat alquran dan hadist yang memberikan pengertian bahwa hadist itu merupakan sumber hukum islam selain alquran yang wajib diikuti baik dalam bentuk perintah maupun larangannya. Berikut adalah uraian kedudukan hadist sebagai sumber hukum islam dari melihat beberapa dalil, naqli maupun aqli.
مَّا كَانَ ٱللَّهُ لِيَذَرَ ٱلْمُؤْمِنِينَ عَلَىٰ مَآ أَنتُمْ عَلَيْهِ حَتَّىٰ يَمِيزَ ٱلْخَبِيثَ مِنَ ٱلطَّيِّبِ ۗ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُطْلِعَكُمْ عَلَى ٱلْغَيْبِ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يَجْتَبِى مِن رُّسُلِهِۦ مَن يَشَآءُ ۖ فَـَٔامِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرُسُلِهِۦۚ وَإِن تُؤْمِنُوا۟ وَتَتَّقُوا۟ فَلَكُمْ أَجْرٌ عَظِيمٌ

(Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin). Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya. Karena itu berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya; dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagimu pahala yang besar.) QS. Ali imran (3): 179

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ ءَامِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَٱلْكِتَٰبِ ٱلَّذِى نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَٱلْكِتَٰبِ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ مِن قَبْلُ ۚ وَمَن يَكْفُرْ بِٱللَّهِ وَمَلَٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَٰلًۢا بَعِيدًا

(Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.) QS. Annisa (4): 136

Dalam QS. ALI IMRAN diatas, ALLAH SWT memisahkan antara orang-orang mukmin dengan orang-orang yang munafik, dan akan memperbaiki keadaan orang-orang mukmin dan memperkuat iman mereka. Oleh karena itulah orang mukmin dituntut agar tetap beriman kepada ALLAH SWT dan rasulnya.

Sedang pada QS. ANNISA, ALLAH SWT menyeru kaum muslimin agar mereka tetap beriman kepada ALLAH SWT  dan rasulnya, alquran dan kitab yang diturunkan sebelumnya, kemudian pada akhir ayat ALLAH SWT  mengancam orang-orang yang mengingkari seruannya.

Selain ALLAH memerintahkan umat islam agar percaya kepada rasul juga menyerukan agar menaati segala bentuk perundang-undangan dan peraturan yang dibawanya baik berupa perintah maupun larangan. Tuntutan taat dan patuh kepada ALLAH SWT. Banyak ayat alquran yang berkenaan dengan masalah ini:
“katakanlah! Taatlah kalian ALLAH dan rasulnya; jika kamu berpaling maka sesungguhnya ALLAH tidak menyukai orang-orang kafir” (QS. ALI IMRAN:3 (32))
Dari beberapa ayat alquran diatas tergambar bahwa setiap ada perintah taat kepada ALLAH SWT.

Dalam alquran selalu diiringi dengan perintah taat kepada rasul nya. Demikian pula mengenai peringatan karena durhaka kepada ALLAH SWT. sering disejajarkan dengan ancaman karena durhaka kapada rasul. Bentuk bentuk ayat ini menunjukan betapa pentingnya kedudukan penetapan kewajiban taat terhadap semua yang disampaikan oleh rasul.

Cara cara penyajian ALLAH SWT seperti ini hanya diketahui oleh orang yang menguasai bahasa arab dan memahami ungkapan ungkapan serta pemikiran pemikiran yang terkandung didalam memahami maksud tersebut.

Dari sinilah sebetulnya dapat dinyatakan bahwa ungkapan wajib taat kepada rasul dan larangan mendurhakainya merupakan suatu kesepakatan yang tidak diperselisihkan oleh umat islam.
Hadis merupakan sumber hukum Islam kedua setelah Al Quran.

Dalam perkembangan dunia yang serba global ini, berbagai ketidakpastian selalu menerpa kehidupan umat manusia sehingga banyak orang yang bingung dan menemui kesesatan.

Rasulullah SAW sudah mengantisipasinya dengan menurunkan atau mewasiatkan dua pusaka istimewa, yaitu Kitabullah (Al Quran) dan Suanah (hadis).
Barangsiapa yang memegang teguh kedua pusakan tersebut, dia akan selamat di dunia dan di akhirat. Manusia yang berpedoman kepada hadis akan selamat. Maksudnya, ia senantiasa menjalankan kehidupan ini sesuai dengan Al Quran dan hadis Rasulullah SAW

  1. ISLAM DALAM PENGERTIAN SEBENARNYA
Islam adalah agama dalam pengertian definisi nomor delapan tersebut diatas, yaitu agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan tuhan kepada masyarakat manusia melalui nabi Muhammad SAW. Sebagai rosul. Islam pada hakikatnya membawa ajaran-ajaran yang bukan hanya mengenai satu segi, tetapi mengenai berbagai segi dari kehidupan manusia.

Sumber dari ajaran-ajaran yang mengambil berbagai aspek itu ialah alquran dan hadist.
Hadist sebagai sumber kedua dari ajaran-ajaran islam, mengandung sunnah (tradisi) nabi Muhammad SAW sunnah boleh mempunyai bentuk ucapan, perbuatan atau persetujuan secara diam dari nabi.
Berlainan hal dengan alquran, hadist tidak dikenal dicatat tidak dihafal dizaman nabi.

Alasan yang selalu dikemukakan ialah bahwa pencatatan dan penghafalan hadist dilarang nabi, karena dikhawatirkan bahwa dengan demikian akan terjadi pencampurbauran antara alquran sebagai sabda tuhan dengan hadist sebagai ucapan-ucapan nabi. Ada disebut bahwa umar ibn alkhatab khalifah kedua berniat untuk membukukan hadist nabi tetapi karena takut akan terjadi kekacauan antara alquran dan hadist, niat itu tidak jadi dilaksanakan.

Karena hadist tidak dihafal dan tidak dicatat dari sejak semula, tidaklah dapat diketahui dengan pasti mana hadist yang betul-betul berasal dari nabi dan mana hadist yang dibuat-buat. Abu bakar dan umar sendiri, walaupun mereka sezaman dengan nabi, bahkan 2 sahabat yang terdekat dengan nabi, tidak begitu saja menerima hadist yang disampaikan kepada mereka. Abu bakar meminta supaya dibawah saksi yang memperkuat hadist itu berasal dari nabi, dan ali bin abi thalib meminta supaya pembawa hadist bersumpah atas kebenarannya.

Dalam pada itu jumlah hadist yang dikatakan berasal dari nabi bertambah banyak, sehingga keadaannya bertambah sulit membedakan mana hadist yang orisinal dan mana hadist yang dibuat-buat. Diriwayatkan bahwa bukhari mengumpulkan 600.000 hadist, tetapi setelah mengadakan seleksi, yang dianggapnya hadist orisinal hanya 3.000 dari yang 600.000 hadist tadi.

Tidak ada kesepakatan kita antara umat islam tentang keorisinalan semua hadist dari nabi, jadi berlainan dengan ayat-ayat alquran yang semuannya diakui oleh seluruh umat islam adalah wahyu yang diterima nabi dan kemudian beliau teruskan kepada umatnya, dalam keorisinalan hadist terdapat perbedaan antara umat islam oleh karena itu kekuatan hadist sebagai sumber ajaran-ajaran islam tidak sama dengan kekuatan alquran. Inilah dua sumber asli dari ajaran-ajaran islam dalam segala aspeknya.

BAB 3 PENUTUP
  1. KESIMPULAN
            Banyak yang dapat kita petik dari apa yang nabi Muhammad SAW sabda kan yang pada zaman ini para umat sering menyebutnya dengan sebutan sunnah atau hadist. Karena pada dasar nya nabi Muhammad SAW adalah wujud kesempurnaan, meskipun beliau adalah manusia tapi ia diberikan kesempurnaan baik itu dari segi perbuatan, tutur bahasa, maupun akhlak terpuji yang beliau miliki.

Oleh karena itu sudah sepantasnya lah kita sebagai pengikut ajaran beliau (umat) harus mengikutin apa-apa yang telah nabi Muhammad katakan dan apa-apa yang telah nabi Muhammad ajarkan melalui sabda beliau maupun melalui perbuatan beliau semasa hidupnya.

Hadist mengajarkan kita banyak hal, seperti halnya alquran nulkarim hadist pun mengajarkan kita untuk senantiasa berbuat baik. Baik itu terhadap keluarga maupun terhadap masyarakat sekitar bahkan terhadap diri kita sendiri Ini lah keistimewaan hadist.

Oleh karena itu sudah sepatutnya lah hadist yang di sampaikan oleh nabi Muhammad ini kita jadikan pedoman hidup (pegangan hidup) agar kita menjadi orang yang selalu beriman dan beramal soleh setiap waktu dan setiap saat. Karena hanya dari alquran dan hadist nabi Muhammad saja lah kita berpedoman karena kedua nya merupakan ruh atau jatidiri dari ajaran islam dari dulu sampai detik ini.

Diharamkan bagi seorang muslim untuk berpedoman selain dari 2 pedoman hidup yang telah disebutkan diatas. Ini lah islam begitu sempurnanya islam ajaran yang rahmatan lil alamin, tiada ajaran yang sesempurna ajaran yang diwahyukan oleh ALLAH SWT yaitu islam.

Tugas kita saat ini sebagai pengikut (umat) beliau adalah tidak lain tidak bukan menjaga ke-shahih-an hadist dan alquran yang telah diwahyukan ALLAH SWT agar terhindar dari campur tangan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab yang dapat membelokkan arti maupun makna dari hadist dan alquran itu sendiri dan juga harus menerapkan apa yang telah diajarkan oleh hadist dalam kehidupan sehari-hari baik itu dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, maupun bernegara. Agar kita senantiasa menjadi muslim yang bermanfaat bagi diri sendiri dan juga bagi orang banyak umumnya.
  • Terima kasih.

DAFTAR PUSTAKA
ASH SHIDDIEQY Tengku Muhammad Hasbi, Sejarah dan pengantar ilmu hadist – cet. 11,  Jakarta: Bulan Bintang, 1993

SAHRANI Sohari, Ulumul hadist – cet. 2, Bogor: Penerbit Ghalia Indonesia, 2015

SUPARTA Munzier, Ilmu hadist – ed. Revisi. Cet. 4, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003

SYAFE’I Rachmat, Alhadist (aqidah, akhlak, social, dan hukum) – ed. Revisi. Cet. 2, Bandung: Pustaka Setia, 2003

HAMBAL Imam Ahmad Ibn, Hadist-hadist imam ahmad, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2009

Laman internet:

http://bicarathtl.forumms.net/t2256-memahami-hadits-solatlah-kamu-sebagaimana-kalian-melihat-aku-solat-menurut-perspektif-mazhab
https://inspiring.id/sumber-hukum-islam/
http://www.ebdulhamed.com/2013/07/fungsi-hadist-sebagai-sumber-hukum-islam.html

disclaimer: artikel ini dilindungi dan tidak dapat di copy and paste
UNDUH VERSI LENGKAP (PDF) DENGAN KLIK --> AKUN SCRIBD SAYA
Read More

Apa itu HAM?


Menurut deklarasi universal hak asasi manusia (duham) 1948 HAM adalah setiap orang berhak atas semua hak dan kebebasan dengan tidak ada pengecualian apapun seperti perbedaan ras, warna kulit, jenis kelamin, agama, bahasa, politik, atau pandangan lain.

sedangkan menurut  UU no. 39 tahun 1999 HAM adalah seperangkat hak yang melekat pada hakekat keberadaan manusia sebagai makhluk tuhan yang maha esa dan merupakan anugrah yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah dan setiap orang demi  kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia.

doktrin ini berevolusi seiring dengan perkembangan sejarah manusia konsep hak asasi manusia dianggap penting justru karena umat manusia terusik nuraninya oleh perbuatan-perbuatan barbar para tiran di dunia.

deklarasi universal hak asasi manusia yang dideklarasikan pada 10 desember 1948 sendiri merupakan respon komunitas internasional, khususnya perwakilan pemerintahan di dunia saat itu. 

atas salah satu pengalaman paling gelap dalam sejarah umat manusia yaitu perang dunia ke II  dan fasisme yang memproduksi puluhan juta korban jiwa. semata-mata karena kebijakan yang rasis dan mengekang kebebasan fundamental.

deklarasi universal hak asasi manusia ini dianggap merupakan salah satu cara dari komunitas internasional untuk mencegah terulangnya praktek serupa dikemudian hari.

konvenan internasional hak-hak sipil mengcangkup dua  kategori hak asasi utama yakni hak-hak sipil yang mengandaikan jaminan hak-hak atau kebebasan individu dari campur tangan negara.

BACA JUGA: bagaimana pembagian jatah harta gono-gini yang benar ini dia penjelasannya

dan hak-hak politik yang mengandaikan jaminan hak-hak atau kebebasan individu untuk memiliki akses pada negara. kategorisasi konsep ini kemudian menjadi kabur karena adanya pertarungan-pertarungan ideologi-ideologi politik besar.

yang memiliki watak-watak antagonistik satu sama lain, pada proses penyusunan konvenan ini, yaitu konteks perang dingin. klaim bahwa hak-hak sipil dan politik merupakan hak-hak yang  bersifat negatif karena pemenuhannya mengandaikan tidak adanya campur tangan atau intervensi negara.

sementara hak-hak ekonomi, sosial, dan budaya merupakan hak-hak yang bersifat positif karena mengandaikan pemenuhan lewat campur tangan atau intervensi negara (sudah tidak berlaku lagi).

akhirnya hingga hari ini di tingkat nasinal pun internasional telah dikenal prinsip hak asasi manusia yang tak terbagi (indivisible), setara (equal), dan saling mempengaruhi (interdependent).

Siapa yang menjadi pemangku hak dan kewajiban?

seperti yang tersebar di berbagai ketentuan dalam konvenan sipil dan politik hak asasi manusia (human rights) memiliki tempat dan bersubjek pada setiap diri manusia. hak asasi yang dimiliki seseorang karena ia seorang manusia. jadi pihak yang menikmati dan bisa mengklaim suatu perlindungan dan pemenuhan hak asasi manusia adalah seorang individu. 

secara ideal pemenuhan hak asasi manusia harus mencangkup setiap individu dan tidak terpisahkan dari individu. hal ini sesuai dengan idiom yang ada dalam diskurkus hak asasi manusia 
one is too many - satu sudah terlalu banyak
artinya pelanggaran hak asasi manusia tidak menyangkut suatu kualifikasi kuantitas orang, cukup satu korban maka pelanggaran HAM sudah terjadi. setiap hak asasi manusia yang melekat pada individu mengandaikan adanya pihak lain yang memiliki tugas dan kewajiban (duty bearer) untuk memenuhi dan melindunginya.

dalam hal ini adalah negara jadi di satu pihak individu adalah pemangku hak yang bisa menikmati segala kategori hak asasi yang tercantum dalam konvenan sipil dan politik ini. di lain pihak negara menjadi pemangku kewajiban karena memiliki tugas untuk menghormati, melindungi, dan memenuhinya bagi setiap individu dibawah juridiksinya.

tiga kewajiban negara ini dikenal sebagai trials of state obligation. setiap orang atau individu dibawah juridiksi ini, termasuk baik warga negaranya maupun orang atau warga asing yang berada diwilayah hukumnya. warga asing disini termasuk mereka yang tidak memiliki kewarganergaraan manapun, pencari suaka, pengungsi, dan buruh migran.

seperti yang tercantum diberbagai ketentuan konvenan sipil dan politik selalu dimulai dengan "setiap orang berhak atas........." atau "setiap negara pihak dalam konvenan ini berjanji untuk menghormati dan melindungi hak-hak..............." negara pihak disini adalah setiap negara yang telah meratifikasi konvenan sipil dan politik
http://www.putsept.site

kewajiban-kewajiban apa saja yang dijalankan oleh negara?

kewajiban negara untuk menghormati hak asasi manusia (obligation to respect) mengacu pada tugas negara untuk tidak melakukan intervensi terhadap pelaksanaan hak-hak asasi manusia, seperti hak atas hidup, hak-hak integritas personal, atau hak-hak atas privasi. kewajiban negara untuk melindungi hak asasi manusia menekankan pada langkah-langkah menghadapi pelanggaran yang dilakukan oleh pihak-pihak non negara.

sedangkan kewajiban negara untuk memenuhi menekankan pada upaya-upaya positif negara lewat mekanisme legislatif, yudikatif, atau administratif untuk menjamin implementasi hak asasi manusia di tingkat yang paling konkrit. ketiga kewajiban negara ini jelas menunjukan implementasi hak-hak sipil dan politik di bawah konvenan sipil dan politik. andaikan ada kombinasi kewajiban negara baik yang bersifat negatif maupun yang bersifat positif.

Apa saja tindak pelanggaran hak asasi manusia yang pernah terjadi di indonesia?

jika meruntut pada terbentuknya pemerintahan orde baru, sedikitnya ada 4 fase catatan peristiwa pelanggaran hak asasi manusia, yakni fase pembasmian orang-orang kiri dan nasionalis, pembasmian organisasi-organisasi islam penentang asas tunggal pancasila, pembunuhan dan penahanan tokoh masyarakat penentang kebijakan pembangunan orde baru.

dan perang kotor di aceh, papua, dan timor leste. dimulai dari tindak pembasmian pengurus, anggota, simpatisan partai komunis indonesia dan orang-orang nasionalis pada tahun 1965 sampai dengan 1970. dengan tuduhan memberontak terhadap pemerintah republik indonesia yang sah, suharto yang kala itu belum menjadi presiden mengarahkan kekuatan militer untuk menangkap orang-orang kiri dan nasionalis.

membunuh para jenderal TNI angkatan darat, termasuk disini memprovokasi organisasi kemasyarakatan berbasis agama dan politik tertentu untuk ikut melakukan kekerasan dan pembunuhan.

selain itu perempuan dan anak-anak dijadikan sebagai target antara dalam menangkap orang-orang utama yan mereka cari. tidak sedikit para perempuan dan anak-anak yang menjadi korban dari praktik-praktik pemerkosaan, perbudakan seksual, dan pelecehan seksual.

ironisnya peristiwa ini tidak pernah dianggap sebagai peristiwa kejahatan hak asasi manusia karena pemerintah paska orde baru belum pernah menggelar penyelidikan atas peristiwa ini. bahkan beberapa pejabat dari pemerintahan reformasi masih mencoba membenarkan praktik kekerasan dan kejahatan hak asasi manusia pada peristiwa 1965 itu sebagai peristiwa kekerasan komunal.

paska peristiwa 1965 ini menjadi titik awal atas praktik kontrol pemerintah orde baru terhadap penduduknya. dimana penduduk dilarang untuk terlibat aktif dalam kegiatan politik yang bertentangan dengan kebijakan negara. hal lain yang perlu juga dicatat bahwa peristiwa ini kemudian melahirkan kontrol yang luar biasa terhadap aktifitas politik, ekonomi, sosial dan budaya perempuan.

peristiwa ini menjadi pembenar bagi negara untuk menutup akses keterlibatan perempuan dalam kehidupan ekonomi, sosial, politik, dan budaya. setelah pembantaian dan pemenjaraan tanpa proses hukum atas orang-orang kiri dan nasionalis, peristiwa pelanggaran atau kejahatan hak asasi manusia berlanjut dengan operasi militer untuk menghabisi organisasi-organisasi islam yang menentang kebijakan penyatuan ideologi bangsa yakni pancasila pada 1971-1984.

pemerintah orde baru mengatakan bahwa organisasi-organisasi yang menentang asas tunggal pancasila sebagai kelompok pemberontak. pemerintah orde baru melalui kekuatan militernya, yakni komando pemulihan keamanan dan ketertiban (kopkamtib) menangkap pimpinan, anggota, dan simpatisan-simpatisan organisasi-organisasi islam. selanjutnya para tahanan tersebut dijebloskan ke penjara tanpa proses peradilan yang adil. 

beberapa diantaranya bahkan dijatuhi hukuman mati, di sejumlah daerah para istri dan anak dari orang-orang yang dicari militer atau polisi juga kerap menjadi sasaran dalam penyanderaan, para istri dan anak mendapatkan perlakuan kejam dan tak jarang menjadi objek pelecehan seksual. paska peristiwa ini, orde baru melarang organisasi-organisasi islam menggunakan tempat-tempat ibadah sebagai tempat mendiskusikan persoalan-persoalan ekonomi dan politik.

ancaman ini terbukti ketika orde baru kembali mengarahkan aparat militernya untuk menghancurkan organisasi-organisasi berbasis islam yang masih membicarakan persoalan ekonomi politik di tempat pengajian tanjung priok dan talangsari.

ratusan orang tewas dan hilang dalam kedua peristiwa tersebut. beberapa lainnya ditangkap dan dihukum penjara lebih dari 10 tahun. catatan tindak pelanggaran dan kejahatan hak asasi manusia lain dari orde baru adalah praktik-praktik pembunuhan dan penangkapan tokoh-tokoh masyarakat yang menentang praktek pembangunan di pelbagai daerah seperti penyerangan dan penahanan petani cimacan oleh tentara dan polisi di jawa barat.

pembunuhan soeleman nari di papua, pengusiran dan penangkapan tokoh-tokoh masyarakat kedung ombo, dan penagkapan tokoh-tokoh ada di sumatra, kalimantan, sulawesi, maluku. dengan dalih mendorong percepatan pembangunan tentara atau polisi menangkap, membunuh, atau memenjarakan penduduk yang mempertahankan rumah, hutan adat dan tanah adat mereka dari praktik perampasan oleh militer dan polisi atau pengaman swasta perusahaan.

praktik pelanggaran hak asasi manusia ini dilakukan untuk kepentingan pembangunan proyek mercusuar, hak pengusahaan hutan atau perkebunan, maupun situs-situs ekonomi lainnya. tidak diketahui percis berapa korban dalam peristiwa semacam ini karena belum ada laporan investigasi yang mengungkapnya. selain tiga catatan tersebut, tindak pelanggaran hak asasi manusia lain yang melibatkan orde baru adalah praktik-praktik pembasmian orang-orang sipil anggota atau simpatisan pro kemerdekaan di aceh, papua, dan timor lorosae.

tuduhan terhadap orang-orang sipil itu adalah melakukan makar, tentara dan polisi menangkapi, menculik, membunuh, dan memenjarakan orang-orang sipil anggota atau simpatisan kelompok pro kemerdekaan. dalam upaya mengungkap gerakan perlawanan bawah tanah, tim-tim rahasia militer dan polisi kerap menjadikan perempuan dan anak-anak sebagai target sasaran tindak kejahatan seperti pemerkosaan, pelecehan seksual, dan penyanderaan-penyenderaan.

praktik-praktik kotor ini terus mereka gunakan selain untuk mengungkap jaringan bawah tanah, juga sebagai hukuman jika gerilyawan menyerang patroli tentara atau polisi. jumlah korban dari setiap peristiwa ini dapat di lihat dari laporan-laporan resmi yang telah dipublikasikan oleh komnas HAM dan khusus untuk timor leste dapat dilihat dalam laporan akhir the commission for reception truth and reconciliation in east timor dan komisi kebenaran persahabatan.

Apa saja motif dari praktik pelanggaran / kejahatan hak asasi manusia pada masa orde baru ?

dapat ditarik kesimpulan bahwa motif dari praktik-praktik itu adalah memusuhi ideologi berhaluan kiri (komunis) atau kanan (agama) menentang siapa saja yang berseberangan dengan kebijakan pembangunan atau mengganggu pembangunan situs-situs ekonomi orde baru dan penegakan negara kesatuan republik indonesia. pemerintahan orde baru tidak menginginkan terjadinya gangguan terhadap stabilitas politik dan ekonomi indonesia, meskipun tindakan ini sendiri bertentangan dengan hukum nasional.

Siapa para korban dominan dari peristiwa pelanggaran HAM ?

korban dominan adalah orang-orang yang menentang dengan kebijakan politik dan ekonomi negara, termasuk perempuan dan anak-anak. untuk lebih detailnya, korban dominannya adalah petani, buruh, masyarakat adat, kelompok pro demokrasi, anggota organisasi keagamaan atau partai terlarang.

Siapa pelaku dominan dari peristiwa pelanggaran HAM ?

pada dasarnya sangatlah banyak dan tersebar dari pelbagai lembaga negara dan swasta, pelakunya diantaranya tentara, polisi, intelijen negara, swakarsa perusahaan.

Metode penyelesaian pelanggaran HAM berat ?

terdapat 2 mekanisme penyelesaian yang jamak digunakan sebagai metode untuk menyelesaikan pelanggaran HAM berat. mekanisme tersebut adalah mekanisme hukum dan mekanisme non-hukum. kedua mekanisme tersebut jamak dikenal sebagai mekanisme penyelesaian melalui pendekatan transisi (trasitional justice) pendekatan keadilan transisi dipakai dalam konteks negara yang beranjak dari pemerintahan dengan corak otoritarianisme, despotik atau model-model pemerintah non-demokratis lainnya, menjadi beralih ke arah pemerintahan yang bercorak demokratis. kedua mekanisme tersebut perlu digarisbawahi bersifat komplementer atau saling melengkapi satu sama lain dan tidak bisa berjalan salah satu.

Bagaimana dengan keberlanjutan penuntasan kasus pelanggaran HAM saat ini ?

arah penuntasan kasus pelanggaran HAM khususnya HAM berat masa lalu sekarang bergerak lebih kepada kemauan politis ketimbang kerja-kerja sektor hukum. hal ini bisa dilihat dari stagnannya proses penuntasan kasus melalui mekanisme hukum. stagnansi ini berjalan hampir selama 18 tahun terhitung semenjak diundangkannya UU no. 26 tahun 2000 tentang pengadilan HAM. banyak faktor yang menjadi penyebab terhentinya penanganan kasus, salah satunya adalah faktor masih langgengnya impunitas dan juga masih belum tegaknya kedaulatan hukum di indonesia, agenda-agenda itu menjadi tuntutan ketika reformasi berlangsung dan hampir selama itu agenda tersebut tidak berjalan secara maksimal.

Oleh komunitas orang hilang dan korban tindak kekerasan (KONTRAS)
Disampaikan dalam diskusi publik hak asasi manusia, di aula universitas singaperbangsa karawang
Read More
Previous PostPostingan Lama Beranda

Toko Buku Online