Hadist sumber kedua ajaran islam

No Comments
KATA PENGANTAR
Bismillahirohmanirrahim.
Pertama saya ingin mengucap syukur atas kehadiran ALLAH SWT dengan kehendak-NYA lah saya dapat menyelesaikan tugas makalah ini dengan baik.

Banyak tantangan serta hambatan dalam menyelesaikan makalah ini dari sekian tantangan ada satu tantangan yang menurut saya sangat berat yaitu menjadikan makalah ini menjadi suatu yang tidak hanya enak dibaca tapi harus juga bisa bermanfaat bagi orang banyak yang membacanya dan juga harus bisa mengubah paradigma tentang islam menjadi lebih baik untuk khalayak ramai pada zaman globalisasi saat ini.

Mengenai hambatan, berbicara mengenai pembuatan karya tidak bisa lepas dari yang bernama hambatan yaitu mencari artikel atau materi yang relevan dengan judul makalah itulah salah satu hambatan yang saya temui, tapi Alhamdulillah dengan seizin-NYA lah saya bisa melalui hambatan tersebut dan dapat membuat makalah ini dengan baik dan tepat waktu.

Makalah ini saya buat bermaksud untuk menguraikan tentang hadist yang menjadi sumber kedua didalam ajaran agama islam, dari sudut pandang saya dan dari pengetahuan tentang hadist yang saya miliki sampai saat ini.

Disadari bahwa makalah ini masih sangat sederhana baik isinya maupun susunannya, maka dari itu segala saran yang bersifat menyempurnakan makalah ini akan diterima dengan senang hati demi menyempurnakan pengetahuan kedepannya, namun harapan penulis semoga makalah ini dapat menambah kepustakaan dalam bidang agama islam, khususnya yang mengenai hadist.

Karawang, 29 desember 2017
Putra septiana


DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB 1 PENDAHULUAN
  1. A. rumusan masalah
  2. B. tujuan penulisan makalah
  3. C. manfaat penulisan makalah

BAB 2 PEMBAHASAN
  1. pengertian hadist
  2. bentuk-bentuk hadist
  3. unsure-unsur pokok hadist
  4. perbandingan hadist dengan alquran
  5. tokoh-tokoh ulama hadist
  6. hadist dalam periode awal
  7. Hadist dalam periode pertengahan
  8. Hadist dalam periode masa kini
  9. tanda-tanda hadist maudlu’
  10. kedudukan hadist sebagai sumber hukum islam
  11. Islam dalam pengertian sebenarnya

BAB 3 PENUTUP
  1. simpulan

DAFTAR PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN
Kata hadist bisa berarti baru lawan kata lama, bisa juga berarti dekat dan juga bisa berarti berita. Dalam terminology islam istilah hadist berarti melaporkan/mencatat sebuah pernyataan dan tingkah laku dari nabi Muhammad. Namun pada saat ini kata hadist mengalami perluasan makna, sehingga disinonimkan dengan sunnah, atsar dan taqrir, maka bisa berarti segala perkataan (sabda), perbuatan, ketetapan, maupun persetujuan dari nabi Muhammad yang dijadikan ketetapan ataupun hukum.
Secara struktur hadist terdiri dari 2 komponen utama yakni sanad dan matan.

Klasifikasi hadist menurut dapat “diterima” atau “ditolaknya” hadist sebagai hujjah (dasar hukum) adalah hadist shohih, hadist hasan dan hadist dhoif.
Hadist memiliki kedudukan yang tinggi dalam penetapan hukum islam, tentunya setelah alquran yang merupakan sumber dari segala hukum islam. Demikian pentingnya posisi hadist dalam agama islam, maka hadist senantiasa berkembang dalam arti penelitian terhadap keabsahan materi hadist itu sendiri maupun dari keterpercayaan sanad-sanadnya. Hadist juga dikatakan sebagai penjelas dari ayat-ayat alquran, terutama terhadap ayat-ayat mustasyabihat.

Disamping juga memberikan kelengkapan dasar hukum islam yang belum atau tidak termaktub dalam alquran.
Karena keberadaannya sebagai sumber ajaran islam, alquran dan hadist telah menjadi focus perhatian umat islam sejak zaman nabi sendiri sampai sekarang. Namun, berbeda dengan alquran perkembangan hadist tidak semulus alquran. Berbagai keraguan bahkan penolakan muncul seiring pertumbuhan study terhadap hadist itu sendiri.

Keraguan tersebut lebih memuncak ketika munculnya golongan yang mengingkari hadist (inkarussunnah), kelompok ini memiliki argumentasi sendiri atas sikap mereka itu (azami, 1994: 42)
  1. A. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan secara umum dapat dirumuskan masalah sebaagai berikut :
  1. Apa pengertian dari hadist ?
  2. Siapa saja tokoh-tokoh ulama hadist ?
  3. Bagaimana saja sejarah & periode-periode penyebaran hadist ?
  4. Bagaimana kedudukan hadist sebagai sumber hukum islam ?
  5. Bagaimana islam dalam pengertian sebenarnya ?

  1. B. TUJUAN PENULISAN
  2. Dapat memahami pengertian daripada hadist.
  3. Mengetahui tokoh-tokoh ulama hadist.
  4. mengetahui & dapat memahami sejarah dan periode-periode penyebaran hadist
  5. memahami kedudukan hadist sebagai sumber hukum islam
  6. memahami islam dalam pengertian sebenarnya.
       
  1. C. MANFAAT PENULISAN
            Penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi yang membacanya, terutama bagi mereka yang ingin menambah wawasan mengenai hadist dan ilmu yang berkaitan dengan nya dan juga semoga makalah ini enak untuk dibaca dan dipahami oleh khalayak ramai.


BAB 2 PEMBAHASAN
  1. PENGERTIAN HADIST
H
adist atau alhadits menurut bahasa aljadid yang artinya sesuatu yang baru. Lawan dari alqadim, artinya yang berarti menunjukan kepada waktu yang dekat atau waktu yang singkat seperti (orang yang baru masuk/memeluk agama islam). Hadis juga sering disebut dengan alkhabar, yang berarti berita yaitu sesuatu yang dipercakapkan dan dipindahkan dari seseorang kepada orang lain, sama maknanya dengan hadits.

Hadits dengan pengertian khabar sebagaimana tersebut diatas dapat dilihat pada beberapa ayat alquran, seperti QS. Al-thur (52):34 – QS. Al-kahfii (18):6 – dan QS. Ad-dhuha (93):11.
فَلْيَأْتُوا بِحَدِيثٍ مِثْلِهِ إِنْ كَانُوا صَادِقِينَ
(Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal Al Quran itu jika mereka orang-orang yang benar.) QS. Al-thur (52):34

فَلَعَلَّكَ بَٰخِعٌ نَّفْسَكَ عَلَىٰٓ ءَاثَٰرِهِمْ إِن لَّمْ يُؤْمِنُوا۟ بِهَٰذَا ٱلْحَدِيثِ أَسَفًا
(Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al-Quran).) QS. Al-kahfii (18):6

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
(Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan.) QS. Ad-dhuha (93):11.

Demikian pula dapat dilihat pada hadits berikut :
“hampir-hampir ada seseorang diantara kamu yang akan mengatakan ini kitab allah apa yang halal di dalamnya kami halalkan dan apa yang haram didalamnya kami haramkan. Ketahuilah barang siapa yang sampai kepadannya suatu hadist dariku kemudian ia mendustakannya, berarti ia telah mendustakan tiga pihak, yakni ALLAH SWT, rasul, dan orang yang menyampaikan hadits tersebut”

Sedangkan menurut istilah/terminology, para ahli memberikan definisi/ta’rif yang berbeda-beda sesuai dengan latar belakang disiplin ilmunnya. Seperti pengertian hadist menurut ahli ushul akan berbeda dengan pengertian yang diberikan oleh ahli hadist.
Menurut ahli hadist, pengertian hadist ialah:

“segala perkataan nabi, perbuatan, dan hal ihwalnnya”

Yang dimaksud dengan hal ihwalnnya ialah segala yang diriwayatkan dari nabi. Yang berkaitan dengan himmah, karakteristik, sejarah kelahiran, dan kebiasaan-kebiasaanya. Ada juga yang memberikan pengertian lain:
“sesuatu yang disandarkan kepada nabi, baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir, maupun sifat beliau.”
Sebagian muhadditsin berpendapat bahwa pengertian hadits diatas merupakan pengertian yang sempit. Menurut mereka, hadist mempunyai cakupan pengertian yang lebih luas; tidak terbatas pada apa yang disandarkan kepada nabi.

(hadist marfu’) saja, melainkan termasuk juga yang disandarkan kepada para sahabat (hadist mauquf’) dan tabi’in (hadist maqtu’) sebagaimana yang disebutkan oleh althirmizi:
“bahwasanya hadist itu bukan hanya untuk sesuatu yang marfu’ yaitu sesuatu yang disandarkan kepada nabi; melainkan bias juga untuk sesuatu yang mauquf’ yaitu yang disandarkan kepada sahabat dan yang maqtu’ yaitu yang disandarkan kepada tabi’in”

Sementara para ulama ushul memberikan pengertian hadist adalah:
“segala perkataan nabi, perbuatan, dan taqrirnya yang berkaitan dengan hukum syara’ dan ketetapannya”
Berdasarkan pengertian hadits menurut ahli ushul ini jelas bahwa hadist adalah segala sesuatu yang bersumber dari nabi, baik ucapan, perbuatan maupun ketetapan yang berhubungan dengan hukum atau ketentuan-ketentuan allah yang diisyaratkan kepada manusia. Selain itu tidak bisa dikatakan hadist.

Ini berarti bahwa ahli ushul membedakan diri Muhammad sebagai rasul dan sebagai manusia biasa. Yang dikatakan hadist adalah sesuatu yang berkaitan dengan misi dan ajaran ALLAH SWT yang diemban oleh Muhammad saw, sebagai rasulullah.
Inipun, menurut mereka harus berupa ucapan dan perbuatan beliau serta ketetapan-ketetapannya.

Sedangkan kebiasaan-kebiasaan, tata cara berpakaian, cara tidur dan sejenisnya merupakan kebiasaan manusia dan sifat kemanusiaan tidak dapat dikategorikan sebagai hadist dengan demikianlah, pengertian hadist menurut ahli ushul lebih sempit dibanding dengan pengertian hadist menurut ahli hadist.
  1. BENTUK-BENTUK HADIST
Sebagaimana seperti uraian diatas telah disebutkan bahwa hadist mencangkup segala perkataan, perbuatan, dan taqrir nabi. Oleh karena itu pada bahasan ini akan saya uraikan tentang bentuk-bentuk hadist.
  1. hadist qauli
Yang dimaksud dengan hadist qauli adalah segala yang disandarkan kepada nabi. Yang berupa perkataan atau ucapan yang memuat berbagai maksud syara’, peristiwa, dan keadaan, baik yang berkaitan dengan aqidah, syariah, akhlak, maupun yang lainnya.

Diantara contoh hadist qauli ialah hadist tentang doa rasul. Yang ditujukan kepada yang mendengar, menghafal, dan menyampaikan ilmu. Hadist itu berbunyi:
“semoga allah memberikan kebaikan kepada orang yang mendengarkan perkataan dariku kemudian menghafal dan menyampaikannya kepada orang lain, karena banyak orang berbicara mengenai fiqh padahal ia bukan ahlinnya. Ada 3 sifat yang karenanya tidak timbul rasa dengki dihati seorang muslim, yaitu ikhlas beramal semata-mata kepada ALLAH SWT menasehati, taat dan patuh kepada pihak penguasa; dan setia terhadap jama’ah. Karena sesungguhnya doa mereka akan memberikan motivasi dari belakang” (HR AHMAD)

Contoh lain hadist tentang bacaan alfatihah dalam shalat yang berbunyi:
“tidak sah shalat seseorangyang tidak membaca fatihah alkitab” (HR MUSLIM)
  1. hadist fi’li
Dimaksudkan dengan hadist fi’li adalah segala yang di sandarkan kepada nabi berupa perbuatannya yang sampai kepada kita. Seperti hadist tentang shalat dan haji. Contoh hadist fi’li tentang shalat adalah sabda nabi yang berbunyi:
عَنْ مَالِكٌ (قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ): وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي   (رواه البخاري)
“shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat” (HR BUKHARI)
Contoh lain, hadist yang berbunyi:
“nabi shalat diatas tunggangannya, kemana saja tunggangannya itu menghadap” (HR ALTIRMIDZI)
  1. hadist hammi
Yang dimaksud dengan hadist hammi adalah hadist yang berupa hasrat nabi yang belum terealisasikan, seperti halnya hasrat berpuasa tanggal 9 ‘asyura. Dalam riwayat ibn abbas, disebutkan sebagai berikut:
“ketika nabi berpuasa pada hari asyura dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa, mereka berkata: ya nabi! Hari ini adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang yahudi dan nasrani, nabi bersabda: tuhan yang akan datang insya ALLAH aku kan berpuasa pada hari kesembilan” (HR MUSLIM)

Nabi belum sempat merealisasikan hasratnya ini, karena wafat sebelum sampai bulan ‘asyura. Menurut imam syafi’i dan para pengikutnya, bahwa menjalankan hadist hammi ini disunnahkan sebagaimana sunnnah-sunnah yang lainnya.
  1. hadist ahwali
Yang dimaksud dengan hadist ahwali ialah hadist yang berupa hal ihwal nabi, yang menyangkut keadaan fisik, sifat-sifat dan keperibadiannya. Tentang keadaan fisik nabi dalam beberapa hadist disebutkan, bahwa fisiknya tidak terlalu tinggi dan tidak pendek, sebagaimana yang dikatakan oleh albarra dalam sebuah hadist riwayat bukhari sebagai berikut:
“rasul adalah manusia yang sebaik-baiknya rupa dan tubuh keadaan fisiknya tidak tinggi dan tidak pendek” (HR  BUKHARI)
Pada hadist lain disebutkan:
“berkata anas bin malik: aku belum pernah memegang sutra murni dan sutra berwarna (yang halus) sehalus telapak tangan rasul juga belum pernah mencium wewangian seharum rasul” (HR BUKHARI)
  1. UNSUR-UNSUR POKOK HADIST
  2. sanad
Kata sanad menurut bahasa adalah “sandaran” atau sesuatu yang kita jadikan sandaran. Dikatakan demikian, karena hadist bersandar kepadanya. Menurut istilah, terdapat perbedaan rumusan pengertian, albadru bin jama’ah dan althiby mengatakan bahwa sanad adalah:
“berita tentang jalan matan”

Yang lain menyebutkan:
“silsilah orang-orang (yang meriwayatkan hadist), yang menyampaikan nya kepada matan hadist”

Ada juga yang menyebutkan:
“silsilah para perawi yang menukilkan hadist dari sumbernya yang pertama”
Yang berkaitan dengan istilah sanad, terdapat kata-kata seperti al-isnad, almusnid, dan almusnad. Kata-kata ini secara terminologis mempunyai arti yang cukup luas, sebagaimana yang dikembangkan oleh para ulama.

Kata alisnad berarti menyandarkan, mengasalkan (mengembalikan ke asal) dan mengangkat. Yang dimaksud disini ialah menyandarkan hadist kepada orang yang mengatakannya (raf’ u hadist ila qa’ilih atau azwu hadist ila qa’ilih). Menurut althiby sebenarnya kata isnad dan sanad digunakan oleh para ahli hadist dengan pengertian yang sama.

Kata almusnad mempunyai beberapa arti bisa berarti hadist yang disandarkan atau diisnadkan oleh seseorang; bisa berarti nama suatu kitab yang menghimpun hadist hadist dengan system penyusunan berdasarkan nama-nama para sahabat para perawi hadist, seperti kitab musnad ahmad; bisa juga berarti nama bagi hadist yang marfu’ dan muttashil.
  1. matan
            Kata matan atau almatan menurut bahasa berarti “tanah yang meninggi” sedang menurut istilah: “sesuatu kalimat tempat berakhirnya sanad” Ada juga redaksi yang lebih simple lagi yang menyebutkan bahwa matan adalah ujung sanad ( gayah assanad) dari semua pengertian diatas menunjukan bahwa yang dimaksud dengan matan adalah materi atau lafaz hadist itu sendiri.
  1. rawi
            Kata rawi atau alrawi berarti orang yang meriwayatkan atau memberitakan hadist. Sebenarnya antara sanad dan rawi itu merupakan 2 istilah yang tidak dapat dipisahkan. Sanad-sanad hadist pada tiap-tiap tabaqahnya juga disebut rawi jika yang dimaksud dengan rawi adalah orang yang meriwayatkan dan memindahkan hadist.

Akan tetapi yang membedakan antara rawi dan sanad, adalah terletak pada pembukuan atau pentandwinan hadist. Orang yang memerima hadist kemudian menghimpunnya dalam suatu kitab tadwin disebut dengan perawi. Dengan demikian, maka perawi dapat disebut mudawwin (orang yang membukukan dan menghimpun hadist)

Untuk lebih jelas dapat membedakan antara sanad, rawi, dan matan, sebagaimana yang diuraikan diatas, ada baiknya melihat contoh hadist dibawah ini:
“telah menceritakan kepadaku Muhammad bin ma’mur bin rabi’I alqaisi, katanya: telah menceritakan kepadaku abu hisyam almahzumi dari abu alwalid yaitu ibn ziyad katanya: telah menceritakan kepada Muhammad bin al-munzakir dari amran dari usman bin affan ra ia berkata: barang siapa yang berwudlu dengan sempurna (sebaik-baiknya wudhu) keluarlah dosa-dosa nya dari seluruh badannya bahkan dari bawah kukunya” (HR MUSLIM)

Dari nama Muhammad bin ma’mur bin rabi’I alqaisi sampai dengan usman bin affan ra adalah sanad dari hadist tersebut, mulai kata man tawaddha’a sampai dengan kata tahta azhfarih adalah matannya. Sedang imam muslim yang dicatat di ujung hadist adalah perawinnya yang juga disebut mudawwin.

Adapun fungsi dari hadist adalah menetapkan dan menguatkan hukum-hukum yang sudah di tetapkan oleh alquran, merinci dan menafsirkan ayat-ayat alquran yang masih global (bayan tafshil), membatasi ayat alquran yang masih mutlaq/umum (bayan taqyid), dan mengkhususkan ayat alquran yang masih umum, serta menetapan hukum yang belum ditetapkan oleh alquran.
  1. PERBANDINGAN HADIST DENGAN ALQURAN
  2. persamaannya
hadist dan alquran sama-sama sumber ajaran islam, bahkan pada hakikatnya kedua-duanya sama-sama wahyu dari ALLAH SWT
  1. 2. perbedaannya
alquran adalah kalamullah yang diwahyukan ALLAH SWT lewat malaikat jibril secara lengkap berupa lafadh dan sanadnya sedangkan hadist berasal dari rosulullah sendiri. Membaca alquran hukumnya ibadah dan syah membaca ayat-ayatnya didalam shalat sementara tidak demikian dengan hadist.

Keseluruhan ayat alquran diriwayatkan oleh rosulullah secara mutawatir, yaitu periwayatan yang menghasilkan ilmu yang pasti dan yakin keotentikannya pada setiap generasi dan waktu maka nash-nash alquran bersifat pasti wujud atau qoth’I assubut.

Hadist sebagian besar bersifat ahad dan zhanni alwurud yaitu tidak diriwayatkan secara mutawatir kalaupun ada hanya sedikit sekali yang mutawatir lafadh dan maknanya. Memiliki hukum dasar yang isinya pada umumnya bersifat mujmal dan mutlak sedangkan hadist sebagai ketentuan-ketentuan pelaksanaannya (praktisnya).
  1. TOKOH-TOKOH ULAMA HADIST
Ilmu rijalul hadist adalah suatu cabang dari pada ilmu-ilmu hadist tidaklah sempurna ilmu seseorang dalam bidang hadist, apabila dia tidak mendalami ilmu ini dari ilmu inilah berpokoknya ilmu jarh wat ta’dil
Untuk melengkapi kuliyah hadist, disamping mempelajari secara mendalam ilmu mushthalah ahli hadist, hendaklah pula didalami ilmu rijalnya karena melengkapi diri dengan ilmu-ilmu ini adalah syarat mutlak dalam usaha membangun pemahaman yang mendalam mengenai hadist yang menjadi sumber ajaran islam
Maka didalam mempelajari sejarah ulama hadist hendaklah diperhatikan:
  1. namanya, kun-yahnya, laqabnya, tempat kelahiran dan tempat wafatnya.
  2. guru-gurunya yang memberikan hadist kepadanya
  3. murud-murid atau ulama-ulama yang menerima hadist daripadanya.
  4. kedudukan dalam ilmu hadist serta hasil karyanya.
Berikut adalah tokoh-tokoh rijalul hadist dari kalangan sahabat
  1. abu hurairah
  2. Abdullah ibnu umar
  3. anas ibn malik
  4. aisyah ashshiddiqiah
  5. Abdullah ibnu abbas
  6. jabir ibn abdillah
  7. abu said alkhudry
  8. Abdullah ibn masud
  9. abuth thufail

  1. HADIST DALAM PRIODE AWAL (ZAMAN ROSUL)
  2. Masa pertumbuhan hadist dan jalan-jalan para sahabat memperolehnya

Rosul hidup di tengah-tengah masyarakat sahabatnya. Mereka dapat bertemu dan bergaul dengaan beliau secara bebas. Tak ada ketentuan yang menghalangi mereka bergaul dengan beliau yang tidak dibenarkan hanyalah mereka langsung masuk kerumah nabi, dikala beliau tak ada dirumah, dan berbicara dengan para istri nabi, tanpa hijab.

Seluruh perbuatan nabi, demikian juga seluruh ucapan dan tutur kata beliau menjadi tumpuan perhatian para sahabat, segala gerak-gerik beliau mereka jadikan pedoman hidup. Berdasarkan kepada kesungguhan meniru dan meneladani beliau, berganti-gantilah para sahabat yang jauh rumah dari masjid, mendatangi majlis-majlis nabi.

Umar ibnul khathtab, menurut riwayat al-bukhari menerangkan:
aku dan seorang temanku (tetanggaku) dari golongan anshar bertempat dikampung umaiyah ibn yazid, sebuah kampong jauh dari kota madinah kami berganti-gantian dating kepada rosul. Kalau hari ini aku yang turun esok tetanggaku yang pergi. Kalau aku turun, aku beritakan kepada tetanggaku apa yang aku dapati dari rosulallah kalau dia yang pergi, demikian juga, pada suatu hari, pada hari gilirannya, sahabatku pergi. Sekembalinnya, dia mengetuk pintu rumahku dengan keras serta berkata: adakah umar didalam? Aku terkejut lalu keluar mendapatinya, ia menerangkan bahwa telah terjadi suatu keadaan penting. Rosul telah mentalak isteri-isterinya. Aku berkata: memang sudah kuduga terjadi peristiwa ini, sesuadah saya bersembahyang subuh, saya pun berkemas lalu pergi. Sesampai dikota, saya masuk kerumah hafshah. Saya dapati dia sedang menangis, maka saya bertanya: apakah engkau telah ditalak oleh rosul? Hafshah menjawab: saya tak tahu. Sejurus kemudian saya masuk ke bilik nabi, sambil berdiri saya berkata: apakah anda telah mentalak isteri-isteri anda? Nabi menjawab: tidak. Dikala saya pun mengucapkan Allahu Akbar!

Riwayat ini menerangkan, bahwa para sahabat sangat benar memperhatikan gerak-gerik nabi dan sangat benar memerlukan untuk mengetahui segala apa yang disabdakan nabi, mereka meyakini, bahwa mereka diperintahkan mengikuti dan mentaati nabi.

Kabilah-kabilah yang tinggal jauh dari kota madinah selalu mengutus salah seorang anggota nya pergi mendatangi nabi untuk mempelajari hukum-hukum agama. Dan sepulang mereka dari kampungnya, mereka segera mengajar kawan-kawannya sekampung.

Diberitakan albukhari dalam shahihnya dari uqbah ibn la-harits, bahwa seorang wanita menerangkan kepadanya (‘uqbah) bahwa dia telah menyusui uqbah dan isterinya, mendengar itu uqbah yang dikala itu berada dimekah terus berangkat menuju ke madinah.

Sesampai kepada nabi, uqbah pun bertanya tentang hukum ALLAH mengenai seseorang yang memperistrikan saudara susunya, tanpa mengetahuinya, kemudian baru diterangkan oleh yang menyusui mereka. Maka nabi menjawab kaifa wa qad qila yang artinya betapa, padahal telah diterangkan orang.

Diriwayatkan oleh malik dari atha ibn yassar bahwa seorang lelaki dari sahabat mengirimkan istrinya untuk bertanya kepada rosul tentang hukum mencium isteri dikala berpuasa, maka ummu salamah memberitahukan kepada wanita yang bertanya itu, bahwa nabi pernah menciumnya dikala beliau sedang berpuasa. Wanita tersebut menerangkan hal itu kepada suaminya. Maka suaminya itu berkata: “aku bukan seperti rosulallah, ALLAH menghalalkan bagi rosulnya apa yang dikehendaki.”

Para sahabat menerima hadist (syariat) dari rosul. Adakala langsung dari beliau sendiri, yakni mereka langsung mendengar sendiri dari nabi, baik karena ada sesuatu soal yang dimajukan oleh seseorang lalu nabi menjawabnya, ataupun karena nabi sendiri yang memulai pembicaraan, adakala tidak langsung yaitu menerima dari sesama sahabat yang telah menerima dari nabi, atau mereka menyuruh seseorang bertanya kepada nabi, jika mereka sendiri malu bertanya.
  1. sebab-sebab hadist ditulis setiap-tiap nabi menyampaikannya
Semua penulis sejarah rasul, ulama hadist dan umat islam sependapat menetapkan bahwa al-quranul karim memperoleh perhatian yang penuh dari rosul dan dari para sahabat.

Rosul memerintahkan para sahabat untuk menghafal alquran dan menulisnya dikeping-keping tulang, di pelepah korma, dan dibatu-batu. Ketika rosulallah wafat, alquran telah dilafal dengan sempurna dan telah lengkap ditulis, hanya yang belum, dukumpulkan dalam sebuah mushaf saja.

Hadist dan sunah, walaupun merupakan sumber yang penting pula dari sumber-sumber tasyri, tidak memperoleh perhatian yang demikian. Dia tidak ditulis secara resmi , tidak diperintahkan orang menulisnya, seperti perintah menuliskan alquran.

Boleh jadi, perbedaan-perbedaan perhatian dan tidak membukukan hadist disebabkan oleh factor-faktor ini:

            a).        mentadwinkan ucapan-ucapannya, amalan-amalannya, muamalah-muamalahnya adalah suatu keadaan yang sukar, karena memerlukan adanya segolongan sahabat yang terus-menerus harus menyertai nabi untuk menulis segala yang tersebut diatas padahal orang-orang yang dapat menulis pada masa itu masih dapat dihitung.

            b).        karena orang arab, disebabkan mereka tak pandai menulis dan membaca tulisan kuat berpegang kepada kekuatan hafalan dalam segala apa yang mereka ingin menghafalnya.

            c).        karena dikhawatirkan akan bercampur dalam catatan sebagian sabda nabi dengan alquran dengan tidak sengaja.
  1. HADIST DALAM PERIODE PERTENGAHAN (MASA PEMBUKUAN DAN PENGUMPULAN HADIST)
  2. permulaan zaman pembukuan hadist
Sudah dapat difahamkan bahwa dalam abad pertama hijrah, mulai dari zaman rasul, masa khalifah rasyidin dan sebagian besar zaman amawiyah, yakni hingga akhir abad pertama hijriah, hadist-hadist itu berpindah mulut dari mulut ke mulut.

Masing-masing perawi meriwayatkan berdasarkan kepada kekuatan hafalannya.
Pada masa itu mereka belum terdorong untuk membukukannya. Hafalan mereka terkenal kuat, diakui sejarah kekuatan hafalan para sahabat dan tabi’in itu.

Dikala kendali khalifah di pegang oleh umar ibn abdil aziz yang dinobatkan dalam tahun 99 hijriah seorang khalifah dari dinasti amawiyah yang terkenal adil dan wara’. Sehingga beliau dipandang sebagai khalifah rasyidin yang kelima, tergeraklah hatinya untuk membukukan hadits.

Beliau sadar bahwa para perawi yang membendaharakan hadist dalam kepalanya, kian lama kian banyak yang meninggal. Beliau khawatir apabila tidak segera dibukukan dan dikumpulkan dalam buku-buku hadist dari para perawinya, mungkinlah hadist-hadist itu akan lenyap dari permukaan bumi dibawa bersama oleh para penghafalnya ke alam barzah.

Para pengumpul pertama hadist yang tercatat dalam sejarah:
                        a).        di mekkah, ibnu juraij (669 masehi – 767 masehi)
                        b).        di madinah, ibnu ishaq (151 masehi – 768 masehi)
                        c).        di bashraah, al rabi ibn shabih ( 777 masehi)
                        d).        di kufah, sufyan ats tsaury (161 hijriah)
                        e).        di syam, al auza’y (156 hijriah)
                        f).         di wasith, husyaim al wasithy (772 masehi – 804 masehi)
                        g).        di yaman, ma’mar al azdy (753 masehi – 770 masehi)
                        h).        di rei, jarir al dlabby (728 masehi – 804 masehi)
                        i).         di khurasan, ibn Mubarak (735 masehi – 797 masehi)
                        j).         di mesir, al laits ibn saad (175 hijriah)

  1. HADIST DALAM PERIODE MASA KINI (656 H – SEKARANG)
  2. india dan mesir memegang peranan penting dalam perkembangan hadist.
Mulai dari masa Baghdad dihancurkan oleh hulagu khan, berpindahlah kegiatan perkembangan hadist ke mesir dan india. Dalam masa ini banyaklah kepala-kepala pemerintahan yang berkecimpung dalam bidang ilmu hadist seperti albarquq.
  1. kitab hadist yang disusun dalam abad ke 7 hijriah
a).        altarghib, susunan alhafidh albdul adhim ibn abdil qawy ibn Abdullah almundziry (656 H).kitab ini salah sebuah kitab yang paling baik caranya dalam mengumpulkan hadist dan menerangkan derajatnya. Alangkah baiknya sekirannya semua kitab hadist disusun menurut tarikah ini.

b).        muntaqal akbar fil ahkami, susunan majduddin abul barakat abdis salam ibn abdillah ibn abil qasim alharrany (652 H)

c).        aljami’ bainash shahihain, susunan ahmad ibn Muhammad alqurthuby yang dikenal dengan nama ibnu hujjah (642 H)
  1. kitab-kitab hadist yang disusun dalam abad 8 hijriah
a).        jami’ul masanid was sunan alhadi ila aqwani sanan susunan alhafidh ibnu katsir (774 H)

b).        alilman fi ahaditsil ahkam, susunan al imam ibnu daqiqil ied (707 H), kitab ini telah disyarahkan oleh pengarangnya dalam kitab al imam.
  1. kitab-kitab hadist yang disusun dalam abad ke 9 hijriah
a).        ith haful khiyar bi zawaidil masanidil asyrah, susunan Muhammad ibn abu bakr albaghawy (804 H) dalam kitab ini diterangkan zawaid yang tak terdapat dalam kitab 6, yang diambil dari musnad ath thayalisy, al humaidy, musnad musaddad ibn musarhad, musnad muhammad ibn yahya ibn amer aladany, musnad ibn rahaweh, musnad ibn abi syaibah, ahmad ibn mani’, musnad ahmad ibnu humaid, musnad alharits ibn Muhammad ibn abi salamah dan musnad abu ya’la almushily

b).        bulughul haram, susunan alhafidh alasqalany, didalamnya dikumpulkan sejumlah 1.400 hadist

c).        majma’uzzawaid wa mamba’ul fawaid, susunan alhafidh abil hasan ali ibn abi bakr ibn sulaiman asy syafi’y alhaitamy (1303 H)

didalamnya dikumpulkan zawaid dari musnad-musnad ahmad abu ya’la, al bazzar dan mu’jam ath thabarany.
  1. kitab-kitab hadist yang disusun dalam abad ke 10 hijriah
a).        jam’ul jawami susunan alhafidh as sayuthy
didalamnya dikumpulkan seluruh hadist kitab 6 dan lain-lain tetapi belum sempurna didalamnya terdapat banyak hadist maudlu’

b).        al jami’ush shaghir min ahaditsil basyirin nadzir, susunan as sayuhty

c).        lubabul hadits, oleh as sayuhty
kitab ini telah disyarahkan oleh Muhammad nawawy dalam kitab tanqihul qaulil hadist.

  1. TANDA-TANDA HADIST MAUDLU’
Tanda-tanda kemaudluan hadist, terbagi menjadi:
Pertama, tanda-tanda yang diperoleh pada sanad, dan kedua, tanda-tanda yang diperoleh pada matan.
            Tanda-tanda pada sanad
  1. perawi itu terkenal berdusta dan hadistnya tidak diriwayatkan, oleh orang yang dapat dipercaya. Para ulama telah membahas dengan sedalam-dalam orang-orang yang dusta itu dalam kitab-kitab jarh dan ta’dil.
  2. pengakuan perawi itu sendiri, abu ishmah nuh ibn abi maryam mengaku sendiri bahwa ia telah memalsukan hadist mengenai keutamaan surat-surat alquran. Dan sebagai akuan abdul karim ibn abil auja yang mengaku telah membuat 4000 hadist, mengenai hukum halal dan haram.
  3. menurut sejarah mereka tak mungkin bertemu. Perawi yang meriwayatkan suatu hadist dari seorang syaikh tersebut meninggal, atau tak pernah ia dating ke tempat syaikh itu, yang dikatakan disanalah ia mendengar hadist.
            Ma’mun ibn ahmad al sarawy mendakwa, bahwa ia ada mndengar hadist dari hisyam ibn ammer kepada ibnu hibban. Maka ibu hibban berkata: “bila engkau ke kota syam?“

Ma’mun menjawab: “ pada tahun 250 H. “ mendengarkan itu ibnu hibban berkata “ hisyam meninggal dunia tahun 245 H”

Di ketika Abdullah ibn ishaq al kirmany, menerangkan bahwa ia ada mendengar hadist dari Muhammad ibn yacub, ditolak dakwaannya dengan alas an bahwa Muhammad ibn yacub itu meninggal dunia 9 tahun sebelum Abdullah ibn ishaq lahir.

Pokok pegangan kita dalam menghadapi soal ini tarikh rijal, seperti: kitab mizanul I’ tidal karangan adz dzahaby.
  1. keadaan perawi-perawi sendiri serta dorongan membuat hadist, dapat diketahui, bahwa hadist maudlu dengan memperhatikan keadaan-keadaan karinah yang mengelilingi perawi kala ia meriwayatkan hadist tersebut.

Diriwayatkan oleh hakim dalam kitab nya dari saif ibn amer ath thayiby ujarnnya: “ pada suatu hari kami berada di tempat sa’ad ibn tharif maka datanglah anaknya terengah-engah sambil menangis.

Saad bertanya mengapa engkau? Anaknya menjawab saya dipukul oleh guru dikala itu saad mengeluarkan sebuah hadist, seraya berkata, saya akan menjelekan pekerjaan itu” diriwayatkan kepadaku oleh ikrimah dari abbas dari nabi:

guru anak-anak itu adalah orang-orang yang paling buruk pekerjaannya dari kami. Mereka paling kurang merahmati anak-anak yatim dan paling kesat hatinya terhadap orang-orang miskin”

Dan seumpama hadist: “harisah itu menguatkan belakang (punggung)”
Hadist ini dibuat oleh Muhammad ibn alhajjaj annakha’y seorang penjual harisah (semacam makanan yang dibuat dari gandum yang ditumbuk dan dicampur daging, serupa bubur kental)
Tanda-tanda pada matan:
                        a).        buruknya susunan dan lafadhnya
                        b).        rusak maknannya
                        c).        menyalahi keterangan alquran yang terang, keterangan sunnah mutawatirah dan kaidah-kaidah kulliyah
                        d).        menyalahi hakikat sejarah yang telah terkenal di masa nabi SAW
                        e).        sesuai hadist dengan mahzab yang dianut oleh rawi, sedang rawi itu pula orang yang sangat fanatic kepada mahzabnya
                        f).         menerangkan urusan yang menurut seharusnya, kalau ada, dinukilkan oleh orang ramai
                        g).        menerangkan suatu pahala yang sangat besar terhadap perbuatan yang sangat  kecil, atau siksa yang sangat besar, terhadap                                            suatu perbuatan yang kecil.
  1. sebab-sebab timbul usaha pemalsuan hadis
Pertama - perselisihan politik dalam soal khalifah.
Kedua – zandaqah ( rasa dendam yang bergelimang dalam hati sanubari golongan yang tidak menyukai kebangunan islam dan kejayaan pemerintahannya).
Ketiga – ashbiyah (fanatic kebangsaan, kekabilahan, dan keimanan).
Keempat – keinginan menarik minat para pendengar dengan kisah-kisah pengajaran dan hikayat-hikayat yang menarik.
Kelima – perselisihan faham dalam masalah fiqh dan masalah kalam.
Keenam – pendapat yang membolehkan orang membuat hadist untuk kebaikan.
Ketujuh – mendekatkan diri kepada pembesar-pembesar negeri

Golongan-golongan yang memalsukan hadist:
Dengan memperhatikan uraian diatas, nyatalah bahwa golongan-golongan yang membuat hadist palsu itu, 9 golongan:
                        a).        zanadiqah
                        b).        penganut-penganut bid’ah
                        c).        orang-orang dipengaruhi fanatic kepartaian
                        d).        orang-orang yang dipengaruhi ta’ashshub mahzab
                        e).        para qushshash (ahli riwayat dongeng)
                        f).         para ahli tasawuf zuhhad yang keliru
                        g).        orang-orang yang mencari penghargaan pembesar negeri
                        h).        orang-orang yang ingin memegahkan dirinya dengan dapat meriwayatkan hadist-hadist yang tidak diperoleh orang lain.

  1. KEDUDUKAN HADIST SEBAGAI SUMBER HUKUM ISLAM
Seluruh umat islam telah sepakat bahwa hadist rasul merupakan sumber dan dasar hukum islam setelah alquran, dan umat islam wajib mengikuti hadist sebagaimana diwajibkan mengikuti alquran.

Alquran dan hadist merupakan 2 sumber hukum syariat islam yang tetap, yang orang islam tidak mungkin memahami syariat islam secara mendalam dan lengkap tanpa kembali pada kedua sumber islam tersebut. Seorang mujtahid dan seorang alim pun tidak diperbolehkan hanya mencukupkan diri dengan salah satu dari keduannya.

Banyak ayat alquran dan hadist yang memberikan pengertian bahwa hadist itu merupakan sumber hukum islam selain alquran yang wajib diikuti baik dalam bentuk perintah maupun larangannya. Berikut adalah uraian kedudukan hadist sebagai sumber hukum islam dari melihat beberapa dalil, naqli maupun aqli.
مَّا كَانَ ٱللَّهُ لِيَذَرَ ٱلْمُؤْمِنِينَ عَلَىٰ مَآ أَنتُمْ عَلَيْهِ حَتَّىٰ يَمِيزَ ٱلْخَبِيثَ مِنَ ٱلطَّيِّبِ ۗ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُطْلِعَكُمْ عَلَى ٱلْغَيْبِ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يَجْتَبِى مِن رُّسُلِهِۦ مَن يَشَآءُ ۖ فَـَٔامِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرُسُلِهِۦۚ وَإِن تُؤْمِنُوا۟ وَتَتَّقُوا۟ فَلَكُمْ أَجْرٌ عَظِيمٌ

(Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin). Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya. Karena itu berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya; dan jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagimu pahala yang besar.) QS. Ali imran (3): 179

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ ءَامِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَٱلْكِتَٰبِ ٱلَّذِى نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَٱلْكِتَٰبِ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ مِن قَبْلُ ۚ وَمَن يَكْفُرْ بِٱللَّهِ وَمَلَٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَٰلًۢا بَعِيدًا

(Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.) QS. Annisa (4): 136

Dalam QS. ALI IMRAN diatas, ALLAH SWT memisahkan antara orang-orang mukmin dengan orang-orang yang munafik, dan akan memperbaiki keadaan orang-orang mukmin dan memperkuat iman mereka. Oleh karena itulah orang mukmin dituntut agar tetap beriman kepada ALLAH SWT dan rasulnya.

Sedang pada QS. ANNISA, ALLAH SWT menyeru kaum muslimin agar mereka tetap beriman kepada ALLAH SWT  dan rasulnya, alquran dan kitab yang diturunkan sebelumnya, kemudian pada akhir ayat ALLAH SWT  mengancam orang-orang yang mengingkari seruannya.

Selain ALLAH memerintahkan umat islam agar percaya kepada rasul juga menyerukan agar menaati segala bentuk perundang-undangan dan peraturan yang dibawanya baik berupa perintah maupun larangan. Tuntutan taat dan patuh kepada ALLAH SWT. Banyak ayat alquran yang berkenaan dengan masalah ini:
“katakanlah! Taatlah kalian ALLAH dan rasulnya; jika kamu berpaling maka sesungguhnya ALLAH tidak menyukai orang-orang kafir” (QS. ALI IMRAN:3 (32))
Dari beberapa ayat alquran diatas tergambar bahwa setiap ada perintah taat kepada ALLAH SWT.

Dalam alquran selalu diiringi dengan perintah taat kepada rasul nya. Demikian pula mengenai peringatan karena durhaka kepada ALLAH SWT. sering disejajarkan dengan ancaman karena durhaka kapada rasul. Bentuk bentuk ayat ini menunjukan betapa pentingnya kedudukan penetapan kewajiban taat terhadap semua yang disampaikan oleh rasul.

Cara cara penyajian ALLAH SWT seperti ini hanya diketahui oleh orang yang menguasai bahasa arab dan memahami ungkapan ungkapan serta pemikiran pemikiran yang terkandung didalam memahami maksud tersebut.

Dari sinilah sebetulnya dapat dinyatakan bahwa ungkapan wajib taat kepada rasul dan larangan mendurhakainya merupakan suatu kesepakatan yang tidak diperselisihkan oleh umat islam.
Hadis merupakan sumber hukum Islam kedua setelah Al Quran.

Dalam perkembangan dunia yang serba global ini, berbagai ketidakpastian selalu menerpa kehidupan umat manusia sehingga banyak orang yang bingung dan menemui kesesatan.

Rasulullah SAW sudah mengantisipasinya dengan menurunkan atau mewasiatkan dua pusaka istimewa, yaitu Kitabullah (Al Quran) dan Suanah (hadis).
Barangsiapa yang memegang teguh kedua pusakan tersebut, dia akan selamat di dunia dan di akhirat. Manusia yang berpedoman kepada hadis akan selamat. Maksudnya, ia senantiasa menjalankan kehidupan ini sesuai dengan Al Quran dan hadis Rasulullah SAW

  1. ISLAM DALAM PENGERTIAN SEBENARNYA
Islam adalah agama dalam pengertian definisi nomor delapan tersebut diatas, yaitu agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan tuhan kepada masyarakat manusia melalui nabi Muhammad SAW. Sebagai rosul. Islam pada hakikatnya membawa ajaran-ajaran yang bukan hanya mengenai satu segi, tetapi mengenai berbagai segi dari kehidupan manusia.

Sumber dari ajaran-ajaran yang mengambil berbagai aspek itu ialah alquran dan hadist.
Hadist sebagai sumber kedua dari ajaran-ajaran islam, mengandung sunnah (tradisi) nabi Muhammad SAW sunnah boleh mempunyai bentuk ucapan, perbuatan atau persetujuan secara diam dari nabi.
Berlainan hal dengan alquran, hadist tidak dikenal dicatat tidak dihafal dizaman nabi.

Alasan yang selalu dikemukakan ialah bahwa pencatatan dan penghafalan hadist dilarang nabi, karena dikhawatirkan bahwa dengan demikian akan terjadi pencampurbauran antara alquran sebagai sabda tuhan dengan hadist sebagai ucapan-ucapan nabi. Ada disebut bahwa umar ibn alkhatab khalifah kedua berniat untuk membukukan hadist nabi tetapi karena takut akan terjadi kekacauan antara alquran dan hadist, niat itu tidak jadi dilaksanakan.

Karena hadist tidak dihafal dan tidak dicatat dari sejak semula, tidaklah dapat diketahui dengan pasti mana hadist yang betul-betul berasal dari nabi dan mana hadist yang dibuat-buat. Abu bakar dan umar sendiri, walaupun mereka sezaman dengan nabi, bahkan 2 sahabat yang terdekat dengan nabi, tidak begitu saja menerima hadist yang disampaikan kepada mereka. Abu bakar meminta supaya dibawah saksi yang memperkuat hadist itu berasal dari nabi, dan ali bin abi thalib meminta supaya pembawa hadist bersumpah atas kebenarannya.

Dalam pada itu jumlah hadist yang dikatakan berasal dari nabi bertambah banyak, sehingga keadaannya bertambah sulit membedakan mana hadist yang orisinal dan mana hadist yang dibuat-buat. Diriwayatkan bahwa bukhari mengumpulkan 600.000 hadist, tetapi setelah mengadakan seleksi, yang dianggapnya hadist orisinal hanya 3.000 dari yang 600.000 hadist tadi.

Tidak ada kesepakatan kita antara umat islam tentang keorisinalan semua hadist dari nabi, jadi berlainan dengan ayat-ayat alquran yang semuannya diakui oleh seluruh umat islam adalah wahyu yang diterima nabi dan kemudian beliau teruskan kepada umatnya, dalam keorisinalan hadist terdapat perbedaan antara umat islam oleh karena itu kekuatan hadist sebagai sumber ajaran-ajaran islam tidak sama dengan kekuatan alquran. Inilah dua sumber asli dari ajaran-ajaran islam dalam segala aspeknya.

BAB 3 PENUTUP
  1. KESIMPULAN
            Banyak yang dapat kita petik dari apa yang nabi Muhammad SAW sabda kan yang pada zaman ini para umat sering menyebutnya dengan sebutan sunnah atau hadist. Karena pada dasar nya nabi Muhammad SAW adalah wujud kesempurnaan, meskipun beliau adalah manusia tapi ia diberikan kesempurnaan baik itu dari segi perbuatan, tutur bahasa, maupun akhlak terpuji yang beliau miliki.

Oleh karena itu sudah sepantasnya lah kita sebagai pengikut ajaran beliau (umat) harus mengikutin apa-apa yang telah nabi Muhammad katakan dan apa-apa yang telah nabi Muhammad ajarkan melalui sabda beliau maupun melalui perbuatan beliau semasa hidupnya.

Hadist mengajarkan kita banyak hal, seperti halnya alquran nulkarim hadist pun mengajarkan kita untuk senantiasa berbuat baik. Baik itu terhadap keluarga maupun terhadap masyarakat sekitar bahkan terhadap diri kita sendiri Ini lah keistimewaan hadist.

Oleh karena itu sudah sepatutnya lah hadist yang di sampaikan oleh nabi Muhammad ini kita jadikan pedoman hidup (pegangan hidup) agar kita menjadi orang yang selalu beriman dan beramal soleh setiap waktu dan setiap saat. Karena hanya dari alquran dan hadist nabi Muhammad saja lah kita berpedoman karena kedua nya merupakan ruh atau jatidiri dari ajaran islam dari dulu sampai detik ini.

Diharamkan bagi seorang muslim untuk berpedoman selain dari 2 pedoman hidup yang telah disebutkan diatas. Ini lah islam begitu sempurnanya islam ajaran yang rahmatan lil alamin, tiada ajaran yang sesempurna ajaran yang diwahyukan oleh ALLAH SWT yaitu islam.

Tugas kita saat ini sebagai pengikut (umat) beliau adalah tidak lain tidak bukan menjaga ke-shahih-an hadist dan alquran yang telah diwahyukan ALLAH SWT agar terhindar dari campur tangan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab yang dapat membelokkan arti maupun makna dari hadist dan alquran itu sendiri dan juga harus menerapkan apa yang telah diajarkan oleh hadist dalam kehidupan sehari-hari baik itu dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, maupun bernegara. Agar kita senantiasa menjadi muslim yang bermanfaat bagi diri sendiri dan juga bagi orang banyak umumnya.
  • Terima kasih.

DAFTAR PUSTAKA
ASH SHIDDIEQY Tengku Muhammad Hasbi, Sejarah dan pengantar ilmu hadist – cet. 11,  Jakarta: Bulan Bintang, 1993

SAHRANI Sohari, Ulumul hadist – cet. 2, Bogor: Penerbit Ghalia Indonesia, 2015

SUPARTA Munzier, Ilmu hadist – ed. Revisi. Cet. 4, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003

SYAFE’I Rachmat, Alhadist (aqidah, akhlak, social, dan hukum) – ed. Revisi. Cet. 2, Bandung: Pustaka Setia, 2003

HAMBAL Imam Ahmad Ibn, Hadist-hadist imam ahmad, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2009

Laman internet:

http://bicarathtl.forumms.net/t2256-memahami-hadits-solatlah-kamu-sebagaimana-kalian-melihat-aku-solat-menurut-perspektif-mazhab
https://inspiring.id/sumber-hukum-islam/
http://www.ebdulhamed.com/2013/07/fungsi-hadist-sebagai-sumber-hukum-islam.html

disclaimer: artikel ini dilindungi dan tidak dapat di copy and paste
UNDUH VERSI LENGKAP (PDF) DENGAN KLIK --> AKUN SCRIBD SAYA
Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 komentar

Posting Komentar

putraseptiana.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti di atur dalam UU ITE

Toko Buku Online